Aku menuliskan mimpi. Di kertas, di buku, di layar komputer bahkan di proposal hidup pada saat mengajukan Beasiswa Aktivis Nusantara ke pihak Dompet Dhuafa. Kutuliskan kalimat-kalimat di bawah ini :
“Jepang, Jepang, Jepang
aku ingin kesana”
“September 2014 ke
Jepang”
“Beasiswa ke Jepang,
S2!”
Mimpi
ini ada sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Dulu, di hari pertama
aku tiba di Solo untuk daftar ulang di bulan Maret 2010, aku diajak kakak
kelasku untuk datang ke sebuah acara di Auditorium UNS. Disana, aku disuguhkan
video seorang mahasiswa IPB yang memperjuangkan mimpi-mimpinya, salah satunya
untuk kuliah di Jepang. Kak Danang namannya. Beliau hari itu juga datang langsung
menceritakan pengalamannya dalam memperjuangkan mimpinya. Maka, setelah hari
itu, aku tuliskan mimpi untuk ke Jepang.
Alasan
utama aku ingin kesana adalah karena di SMA aku mendapatkan mata pelajaran
Bahasa Jepang dan sensei (guru)ku
sangat keren mengemas pembelajaran mengenai bahasa Jepang. Selain itu, aku
ingin menjalani rutinitas kehidupan orang-orang Jepang yang disiplin secara
langsung. Sesederhana itu tadinya.
Hari
berganti. Di putaran waktu yang tidak sedikit itu aku bertemu banyak orang,
mengenal mereka, bercerita soal mimpi tentang ingin ke luar negeri. Seringkali
aku mengaca diri. Siapa aku ini? Uang aku tak punya banyak. Untuk bertahan
kuliah hingga sekarang saja, aku harus pandai mengemas uang yang aku miliki.
Mencari beasiswa, mencari tambahan uang, ikut kegiatan ini itu. Bahasa Inggris?
Bahasa Inggrisku bisa dibilang cukup baik atau malah buruk. Berkali-kali masuk
barisan remedial waktu masih SMA. IPK? IPK ku standar-standar saja. Di kelas
juga biasa aja, kadang sering izin kuliah ditempat lain (bukan bolos ke mall atau main tidak jelas, tapi mendatangi sumber ilmu
lainnya kalau aku penat dengan rutinitas kuliah). Dalam hari-hari yang
terus bergulir, sering pula muncul ketidakyakinaku dengan mimpi yang aku tulis pun lebih sering lagi aku berujar
terlalu percaya diri. Seperti yang pernah aku bilang dengan seorang karibku disini
“Nin, liat besok gue ke luar negeri. Gue
bakal naik pesawat tanpa gue keluar biaya pribadi bahkan dari orang tua gue dan
negara pertama tujuan gue adalah Jepang”.
Aku
paham resiko yang harus aku perjuangkan dalam setiap perjalanan yang ingin aku
lakukan. Meminta orang tua bukanlah pilihan bijaksana bagiku. Maka, aku
putuskan, kemanapun aku pergi nantinya, aku tidak boleh minta uang sedikitpun
ke Ibu. Tugas Ibu hanya mengirimkan uang semampu beliau mengirimkan, tidak
boleh menambah 1 rupiah pun setiap bulannya.
Kemudian
aku tambahkan mimpiku. Kalau besok tiba kesempatan aku untuk ke luar negeri,
aku mau membawa karyaku. Aku ingin menunjukkan kepada orang-orang disana bahwa
inilah Indonesia...
Bersambung
Komentar
Posting Komentar