Langsung ke konten utama

Berlabuh ke Ciamis [1]


“Fit, pulang Ciamis kapan? Ikutan dong” tanya saya ke Fitri.
Nur Fitriyani, begitu nama lengkap salah satu adik ideologis saya di kampus Psikologi UNS. Dara asli Ciamis itu berkali-kali mengajak saya untuk main ke kota kelahirannya. Kota Ciamis memang punya magnet untuk didatangi, sebab ada salah satu karib saya yang kini menetap disana. Sakinah namanya.

Singkat cerita, tanggal 27-29 Desember 2013 saya memutuskan ikut Fitri ke Ciamis sekaligus silaturahim ke rumah Saki dan keluarganya. Bagi saya, melakukan sebuah perjalanan selalu bisa menjadi sarana untuk berdamai dengan diri sendiri dan berpikir lebih jernih. Ada saja hikmah yang saya temukan dari teman perjalanan maupun tempat yang dikunjungi.

Sore hari tanggal 26 Desember 2013 kami berangkat pukul 16.40 dari Terminal Tirtonadi menggunakan bus Budiman seharga Rp 75.000,00 dan tiba di alun-alun Ciamis pukul 04.00 dini hari. Total perjalanan 11 jam terbayar tuntas dengan bubur kacang hijau plus teh anget rasa tawar traktiran Bapak sama Ibunya Fitri di Warung Burjo sekitar alun-alun. Ada fenomena yang sangat menarik di kota Ciamis. Kalau kita berkunjung ke setiap warung makan yang ada disana, kita pasti di kasih segelas teh anget tawar GRATIS. Jadi, kita gak perlu keluar duit untuk bayar minum :). Alhamdulilah. Usai makan, kami mampir sejenak ke masjid Agung Ciamis. Masjid tersebut me-recall memori saya dua tahun silam.

[flasback] Tanggal 27-29 Januari 2011 saya, Nyun, dan Anti pernah ke Ciamis. Kami main ke Sungai Cipalih, Alun-alun Ciamis, Jembatan Cirahong, belanja di pasar Imbanagara,  bahkan kami datang ke balong (empang) untuk terapi kaki dengan ikan.

Nah! Dua tahun sebelumnya saya pernah ke kota Ciamis dengan orang-orang spesial dalam sejarah hidup saya. Hari itu saya kembali, walau dengan orang yang berbeda. Ternyata dalam sebuah perjalanan, saya jadi belajar merangkai kenangan-kenangan yang saya punya kemudian mengikatnya dengan simpul persaudaraan. Saya jadi tau sesiapa saja yang hadirnya bermakna bagi saya. Well, selamat datang kembali di Ciamis!

Usai dari Masjid Agung Ciamis, kami mampir ke pasar sebentar kemudian menuju kediaman Fitri dan keluarga. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit dari Alun-alun Ciamis dengan menggunakan mobil berkecepatan 40-50 km/jam. Setibanya, kami langsung melemaskan punggung.

Pukul 08.00, rumah Fitri sudah ramai ibu-ibu tetangga sekitar rumah yang datang untuk memasak. Malam nanti akan ada aqiqah keponakannya (anak kakak kandung Fitri). Saya bantu kupas-kupas kentang kemudian sarapan bersama ibu-ibu tersebut. Serunya mendengar orang Sunda ngomong bersahut-sahutan. Walau saya gak paham benar artinya.

Ada persamaan tradisi baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah. Bila ada warga yang punya hajat maka warga lainnya akan ikut ambil bagian dalam mempersiapkan hajat tersebut. Kalau di Klaten, kami menyebutnya sinoman atau nyinom. Asal kata nom (pemuda). Menyenangkan sekali kalau pekerjaan besar tapi dikerjakan bersama-sama.
Setelah kegiatan di dapur. Saya berkenalan dengan sahabat-sahabat kecil bernama Lisna, Vani, Iboy kemudian mengajari mereka membaca serta berperan jadi guru. Lucunya, kami berbahasa isyarat satu sama lain karena mereka ngomong bahasa Sunda lah saya ngomong pake bahasa Indonesia. Lucu lagi waktu mereka semua manggil saya dengan sebutan teteh Titis. Mereka lucu pisan pokoknya. Saya jadi belajar bahasa Sunda sama mereka

Teteh bumina timana?
Teh, ini naon?
dan macam-macam lagi pertanyaan dari mereka.

bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...