Orang besar suka membicarakan
ide-ide.
Ada
persamaan lidah dengan ide. Sama-sama butuh kendali pikir.
Lidah
tidak bertulang. Sehingga butuh kendali pikir agar bisa menjaga tutur yang
lurus pada kebenaran. Begitu pula dengan ide.
Sore
itu, kami (aku, Takwa, Upik) janjian untuk membicarakan ide-ide di danau
samping Rektorat UNS. Saya menyebutnya danau gunungan wayang. Sebab, jika
dilihat dari kejauhan bentuknya memang mirip gunungan wayang.
Drs.
Helly P. Soetjipto, MA. dosen Fakultas Psikologi UGM dalam acara Studi
Reflektif Terhadap Pertunjukkan Wayang pernah mengatakan bahwa ada makna
filosofis dari gunungan wayang. Bentuknya yang meruncing ke atas (vertikal)
melambangkan pegangan hidup kita yang selalu kembali ke atas. Filosofi yang
menarik. Bisa jadi ada makna lainnya ketika diputuskan membangun danau gunungan
wayang di samping Rektorat. Masyarakat Jawa utamanya Solo senang sekali dengan
simbol-simbol. Begitulah kesimpulan hasil pengamatan saya selama empat tahun
menimba ilmu di Solo.
Nah! Kami memilih satu
lokasi tempat duduk yang ada di sekeliling danau. Lokasinya terdokumentasikan
lewat gambar di bawah ini.
![]() |
| Tempat duduk kami terletak di sebrang danau (kecil banget kalau di gambar) |
“Mbak,
apa penelitian yang bisa dilakukan di Psikologi?” tanya Takwa
Kemudian
terjadi diskusi seru mengenai tema tulisan yang akan kami kirimkan sebagai
abstrak dalam acara “The 11th Hokkaido
Indonesian Student Association Scientific Meeting” (HISAS).
Pertemuan
tersebut menyenangkan, sebab kami bisa saling bertukar informasi mengenai
keilmuan masing-masing. Kami bicara mengenai anak-anak, pendidikan, kebudayaan,
lingkungan, kepemimpinan, pangan bahkan sampai metodologi. Saya sangat suka
ketika harus membuat karya dengan orang-orang yang memiliki latar belakang
keilmuan berbeda dari saya, sehingga bisa memperluas pemahaman saya mengenai
kebenaran suatu ilmu yang sedang saya pelajari.
Jadi
ingat, tahun 2011 saya pernah membuat karya dengan Shofia (Psikologi 2010), Mas
Rasyid (Sosiologi 2009), dan Mas Maul (Sosiologi 2007) tentang Perilaku Seksual
Bebas Pada Komunitas Punk ditinjau dari tingkat Konformitas. Perpaduan
keilmuan psikologi dan sosiologi menjadikan kami super tim. Tim psikologi membuat alat ukur sedangkan
tim sosiologi mencari komunitas anak punk.
Dari
cerita tentang karya-karya itu, ide adalah pangkalnya. Tak kurang Indonesia
memiliki banyak anak muda yang menghasilkan karya demi kebermanfaatan
masyarakat. Karya pangkal Hebat. Maka,
kalau kita berdoa hendaknya kita minta agar Allah menjaga pikir kita agar
menghasilkan ide-ide cerdas serta karya bermanfaat untuk ummat.
Bukankah
setiap muslim atau muslimah harus cerdas dan ahli di suatu bidang?
Oiya
ini judul astrak kami “Phenomenological Studies
of Leadership in Ecological Intelligence of Nature Lovers”. *nyengir*
bersambung

Komentar
Posting Komentar