Langsung ke konten utama

UKT VS UKM


Oleh : Titis S. Wijayanti
Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret


Awal tahun 2012. Terekam dalam ingatan, ketika surat edaran Dirjen Dikti No. 21/E/T/2012 tanggal 4 Januari 2012 tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) pertama kali dikeluarkan. Menyusul beberapa surat edaran lainnya, yaitu :  surat edaran Dirjen Dikti No. 274/E/T/2012 bertanggal 16 Februari 2012 tentang UKT, surat edaran Dirjen Dikti No. 488/E/T/2012 tanggal 21 Maret 2012 tentang tarif uang kuliah SPP di Perguruan Tinggi, surat edaran Dirjen Dikti No. 305/E/T/2012 tanggal 21 Feb 2012 tentang larangan menaikkan tarif uang kuliah. Keempatnya itu tidak digubris oleh kebanyakan perguruan tinggi (PT). Pada akhirnya keluarlah tiga surat edaran lainnya sebagai arahan agar sistem UKT diterapkan di masing-masing PT. Surat edaran diterbitkan oleh Direktur Litabmas dan Ditlembag dengan rincian : No. 0394 /E5.2/PL/2013 Edaran Direktur Litabmas mengenai pengelolaan BOPTN untuk penelitian tahun 2013 bersama lampiran, No. 978/E.E2.2/KL/2013 mengenai edaran Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama Dikti, ke seluruh pengusul usulan pendirian dan perubahan bentuk perguruan tinggi di seluruh Indonesia, No. 97/E/KU/2013 mengenai Edaran Dirjen Dikti tentang Uang Kuliah Tunggal yang berisi Permintaan Dirjen Dikti kepada Pimpinan PTN untuk menghapus uang pangkal dan melaksanakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa baru program S1 reguler.
Beragam kritik, saran, masukan, pro, dan kontra seringkali mewarnai setiap kebijakan yang dibuat. Tidak ketinggalan dengan UKT. Selain itu, dampak positif dan negatif juga ada dalam setiap kebijakan. Dampak positif dari kebijakan UKT yaitu mengurangi kecurangan pada proses administrasi dan mempermudah mahasiswa serta para orang tua dengan cukup membayar satu macam biaya saja tanpa ada rincian biaya yang lain, seperti halnya SPP, uang sumbangan, uang laboratorium, dan pembiayaan sarana maupun prasarana lain, serta menuntut mahasiswa agar lulus dengan cepat, karena jika mereka terlambat lulus, maka uang kuliah akan semakin membengkak. Dampak lainnya adalah sistem UKT yang dirasa tidak adil karena biaya untuk “si kaya” dan “si miskin” disama ratakan. Selain itu, anggaran untuk pembangunan kampus dan organisasi kemahasiswaan di awal-awal tahun pemberlakuan UKT akan dikurangi.
Ada yang menarik dibahas dari dampak UKT. UKT menuntut mahasiswa agar lulus dengan cepat karena jika terlambat lulus, maka uang kuliah akan semakin membengkak serta anggaran organisasi kemahasiswaan di awal-awal tahun pemberlakuan UKT akan dikurangi. Mahasiswa adalah aset terbesar setiap perguruan tinggi. Setiap mahasiswa yang masuk maka kapasitas intelektual yang dimilikinya pun menjadi milik perguruan tinggi yang ia masuki. Namun, terkadang ada hak yang sering di nomor sekiankan bagi mahasiswa, hak untuk menjalankan masa perkembangan mahasiswanya dengan paripurna.
Pada dasarnya, mahasiswa akan mengalami tiga tahapan perkembangan yaitu tahap pengenalan, pengembangan dan penglepasan (Ni Made Sutriani, 2012). Pada tahap pengenalan yang berlangsung hingga semester kedua, mahasiswa akan mengalami masa transisi dari kondisi kehidupan yang bergantung pada keluarganya dan memasuki kehidupan mandiri secara sosial dan emosi. Mahasiswa di tahap pengenalan biasanya senang mengikuti banyak hal, mulai dari kegiatan di dalam ataupun luar kampus. Namun, dengan paket SKS yang dipadatkan dan biaya UKT untuk standar pendidikan 4 tahun menjadikan mahasiswa pada tahap ini cenderung memilih kegiatan yang terbatas dengan alasan takut mengganggu akademik. Padahal di tahap pengenalan ini juga mahasiswa bisa mengeksplor diri dan mencari passionnya lewat beragam event, kompetisi, organisasi, dan lain-lain. Akibatnya Unit-unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) minim peminat. Lebih ekstrim lagi adalah acara-acara seminar dan keilmiahan sedikit partisipannya.
Berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu tahap pengembangan yang berlangsung sejak awal semester tiga hingga akhir semester enam. Di tahap ini mahasiswa akan mendapat kesempatan mengeksplorasi berbagai hal yang dapat mereka jadikan bekal untuk menghadapi masa yang akan datang. Salah satunya menjadi stakeholder dalam sebuah organisasi. Dengan adanya program magang, kerja praktek, bahkan KKN yang harus diselesaikan sebelum tugas akhir, menjadikan mahasiswa banyak menimbang saat kesempatan belajar itu tiba. Amanah itu mendewasakan. Mahasiswa akan belajar banyak mengenai kepemimpinan, negosiasi dan advokasi, pengembangan organisasi, membangun relasi, dan banyak lagi.  Jika setiap mahasiswa berlomba-lomba menjadi UKM sebagai ladang mereka belajar selain di ruang kelas tentu tidak akan pernah terjadi “rebutan kader”. Namun realitasnya, mahasiswa yang kerap di temui dalam lingkup acara organisasi kemahasiswaan bertema 4L yaitu Lo Lagi Lo Lagi. Hanya orang-orang pilihan yang memilih bertahan kemudian ambil bagian menjadi pemimpin suatu organisasi.
Di tahap penglepasan, yang berlangsung sejak awal semester tujuh dan berakhir di semester delapan, mahasiswa diarahkan untuk mengaktualisasikan dirinya. Mahasiswa dituntut untuk menghasilkan sebuah karya. Skripsi apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh pun akan menjadi sebuah karya yang bisa membawa kemanfaatan bagi masyarakat. Dari kolaborasi ketiga tahap perkembangan mahasiswa di atas, orientasi pembentukan karakter mahasiswa yang seharusnya di bangun adalah untuk berkarya bukan bekerja.
Bekerja dan berkarya adalah dua hal yang berbeda walaupun keduanya sama-sama menghasilkan “sesuatu” apabila di lakukan. Bekerja lebih cenderung berorientasi kepada kepentingan individual dan ekonomi. Misalnya, A bekerja di sebuah LSM atau perusahaan. Saat dia bekerja, maka dia bisa mendapatkan gaji. Semakin giat dia bekerja, semakin besar gaji yang akan diterimanya. Pendidikan di Indonesia sendiri pun dirasa masih menitik beratkan kepada pemahaman bahwa setelah lulus sekolah, harus bekerja. Berbeda dengan berkarya. Berkarya berarti menghasilkan sesuatu yang kelak orientasinya ditujukan tidak saja untuk kepentingan individual, namun kepentingan kelompok. Seseorang yang orientasi ketika lulusnya berkarya maka ia tidak takut bila nantinya tidak bekerja ataupun mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya justru dia yang akan membuat sebuah lapangan pekerjaan.
Tantangan kampus di era globalisasi bahkan menjelang kawasan ekonomi ASEAN bukan hanya menjadikan setiap lulusan mapan secara angka, namun juga mentalitas untuk berkarya. Seringkali UKM dijadikan momok tersendiri bagi para dosen sebagai wadah yang bisa “memperlama” mahasiswa untuk lulus. Oleh karenanya, seringkali juga dana-dana kegiatan kemahasiswaan di nomor sekiankan prioritasnya. Padahal untuk mengikuti sebuah kompetisi baik di dalam atau luar negeri, menjadi delegasi, pertukaran pelajar, dan banyak lainnya menjadi sarana mahasiswa mengharumkan nama kampus serta mengembangkan potensi serta memenuhi tahap perkembangannya.
UKM sebagai wadah pengembangan kegiatan sekaligus kreativitas mahasiswa harus memiliki pola kaderisasi yang kemudian menyeimbangkan dengan tahap perkembangan mahasiswa dan tuntutan pendidikan perguruan tinggi. Jika permasalahannya adalah dana, maka ketika ada program-program hibah dana wirausaha, kesempatan itu bisa menjadi peluang pengajuan usaha untuk keberjalanan organisasi. Solusi lain mengenai dana kemahasiswaan yang akan dipotong untuk UKT lebih banyak lagi. Kalau kita memiliki dusun binaan, hasilnya bisa kita seminarkan atau lombakan, bila menang bisa menjadi kas untuk pemberdayaan masyarakat selanjutnya. Dengan UKM juga kita bisa melakukan advokasi terhadap mahasiswa-mahasiswa yang kurang mampu atau belum mampu membayar UKT.
Satu-satunya cara yang paling cepat merubah suatu sistem yakni ketika tiba saatnya kita menjadi pemimpin. Namun, ketika belum tiba masa memimpin itu datang, maka kita harus lebih bisa menjalankan sistem tersebut dengan lebih cerdas sebagai insan cendekiawan. Sistem UKT bukan akhir dari masa keberjayaan mahasiswa. Dari dulu sampai kapanpun, mahasiswa akan selalu menjadi pengukir sejarah suatu bangsanya.

Untuk mereka yang dalam pergerakannya selalu menitip sapa pada bumi yang dipijaknya...Indonesia. Hidup Mahasiswa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...