| Langit Sore di Alun-alun Ciamis |
Pukul
15.30 kami (saya dan Fitri) undur diri dari objek wisata Icakan untuk kembali
ke alun-alun bertemu Sakinah sahabat saya yang menetap bersama keluarganya di
Ciamis. Ini kali ke empat saya kembali ke alun-alun Ciamis. Saya sempat
berpikir, kenapa hampir di seluruh kota di pulau Jawa yang pernah saya kunjungi
memiliki alun-alun kota yang juga menjadi pusat kota? Sebut saja Solo, Ciamis,
Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, Bandung, dan lainnya.
Uniknya
lagi, jalan di sekitar alun-alun biasanya di buat satu arah seolah-seolah saat
kita berkeliling kota tersebut titik kembalinya terletak di alun-alun. Sempat
saya bertanya sama Fitri, “Fit, kayanya mah kita mau lewat mana aja tetep
tembusnya ke alun-alun ya?”. Pasti ada filosofisnya. Hemat pikir saya, filosofi
alun-alun mengingatkan saya akan kalimat di buku Negeri Lima Menara karya A.
Fuadi. Beliau menuliskan setiap ruang
kosong kembali ke atas. Kalau orang berkeliling satu kota saja bisa kembali
ke pusat kota tersebut (alun-alun), gimana dengan manusia? Puas berkeliling
dunia tentu saja ia akan kembali kepada yang menciptakannya. Bukannya juga
Allah Maha segalanya pun hanya dengan mengingatNya hati kita jadi tenang? Allah
lagi, Allah terus.
Sore
itu, sambil melihat ramainya alun-alun ditambah perjumpaan dengan sahabat.
Genaplah perasaan syukur.
Bagaimana bisa aku
membenci jingga
Jika perpaduan diantara
warna-warnnya selalu kutemukan Dia
Ya,
jingga sore itu kami habiskan di alun-alun hingga matahari benar-benar terbenam.
Komentar
Posting Komentar