Sepulangnya
dari alun-alun saya kembali ke rumah Fitri. Setibanya disana, rumah sudah ramai
oleh warga sekitar karena akan diselenggarakan hajatan/aqiqah keponakannya Fitri. Tetangga-tetangga Fitri tentu saja kaget
melihat ada orang asing disekitar mereka. Saya diberikan pertanyaan dengan
prinsip 4W (who, what, when, where).
Kamu siapa? Asli mana? Kapan sampai? Jurusan Apa? Hehehe
Seru
pisan euy. Orang Sunda ramah-ramah.
Saya diperlakukan macam keluarga sendiri bahkan seperti warga sana asli.
Ditambah Lisna yang nempel terus sama
saya, jadilah rasa canggung saya sedikit hilang. Saat acara dimulai, saya
sempat menjadi dokumentasi amatiran. Jepret sana, jepret sini. Saya sempat
mengamati saat kakak laki-laki Fitri hendak memotong rambut pertama anaknya,
tangannya sedikit gemetar memegang gunting. Hal itu disinyalir karena
pengalaman pertama jadi bapak.
Acara
malam itu berlangsung khidmat. Semacam hajatan di tempat lain saya masih
menemukan ada budaya shalawatan disana. Usai acara, saya langsung bergegas ke
kamar. Tiba-tiba Lisna menguntil sama. Dia bilang hendak tidur bersama saya. Ya
ampun, ini anak bener-bener bikin gemas. Tapi ternyata, Lisna gak bertahan lama di kamar, dia langsung
kangen ibunya.
Baiklah,
malam itu saya juga belajar. Belajar dari himpitan rasa penasaran sekaligus
takjub dari Kakak kandung dan iparnya Fitri. Mereka baru saja mendapatkan
amanah serta peran baru sebagai ayah dan ibu. Berdasarkan wawancara ibu dan
Fitri, si dedek kalau malam sering kebangun karena lapar, belum lagi kalau
ngompol atau pup. Saya berpikir,
Allah menjadikan anak-anak, harta, dan wanita sebagai suatu kesenangan. Tapi,
lebih dari itu kita tidak boleh terlena. Saya belajar dari sosok khalifah Umar
bin Khathab dalam buku Kepemimpinan Dua Umar karya Fuad Abdurrahman. Beliau
berani mencambuk anaknya yang berbuat zina hingga meninggal dan beliau
menyaksikan sendiri kematian dari anaknya. Saya juga pernah mendengar sebuah
ceramah radio saat perjalanan dari Depok menuju Solo, “zaman sekarang sulit menemukan orang tua yang berani melepas anakny”. Saya
benarkan. Sering saya menemukan, jelas-jelas si anak berbuat salah tapi orang
tuanya seolah tak ambil ketegasan atas kesalahan anaknya itu.
Semoga
Allah senantiasa menguatkan hati dan pundak setiap manusia yang diberiNya
kesempatan mengambil peran sebagai Ayah dan Ibu...
Komentar
Posting Komentar