Langsung ke konten utama

Berlabuh ke Ciamis [4] : Hajatan

Sepulangnya dari alun-alun saya kembali ke rumah Fitri. Setibanya disana, rumah sudah ramai oleh warga sekitar karena akan diselenggarakan hajatan/aqiqah keponakannya Fitri. Tetangga-tetangga Fitri tentu saja kaget melihat ada orang asing disekitar mereka. Saya diberikan pertanyaan dengan prinsip 4W (who, what, when, where). Kamu siapa? Asli mana? Kapan sampai? Jurusan Apa? Hehehe

Seru pisan euy. Orang Sunda ramah-ramah. Saya diperlakukan macam keluarga sendiri bahkan seperti warga sana asli. Ditambah Lisna yang nempel terus sama saya, jadilah rasa canggung saya sedikit hilang. Saat acara dimulai, saya sempat menjadi dokumentasi amatiran. Jepret sana, jepret sini. Saya sempat mengamati saat kakak laki-laki Fitri hendak memotong rambut pertama anaknya, tangannya sedikit gemetar memegang gunting. Hal itu disinyalir karena pengalaman pertama jadi bapak.

Acara malam itu berlangsung khidmat. Semacam hajatan di tempat lain saya masih menemukan ada budaya shalawatan disana. Usai acara, saya langsung bergegas ke kamar. Tiba-tiba Lisna menguntil sama. Dia bilang hendak tidur bersama saya. Ya ampun, ini anak bener-bener bikin gemas. Tapi ternyata, Lisna gak bertahan lama di kamar, dia langsung kangen ibunya.

Baiklah, malam itu saya juga belajar. Belajar dari himpitan rasa penasaran sekaligus takjub dari Kakak kandung dan iparnya Fitri. Mereka baru saja mendapatkan amanah serta peran baru sebagai ayah dan ibu. Berdasarkan wawancara ibu dan Fitri, si dedek kalau malam sering kebangun karena lapar, belum lagi kalau ngompol atau pup. Saya berpikir, Allah menjadikan anak-anak, harta, dan wanita sebagai suatu kesenangan. Tapi, lebih dari itu kita tidak boleh terlena. Saya belajar dari sosok khalifah Umar bin Khathab dalam buku Kepemimpinan Dua Umar karya Fuad Abdurrahman. Beliau berani mencambuk anaknya yang berbuat zina hingga meninggal dan beliau menyaksikan sendiri kematian dari anaknya. Saya juga pernah mendengar sebuah ceramah radio saat perjalanan dari Depok menuju Solo, “zaman sekarang sulit menemukan orang tua yang berani melepas anakny”. Saya benarkan. Sering saya menemukan, jelas-jelas si anak berbuat salah tapi orang tuanya seolah tak ambil ketegasan atas kesalahan anaknya itu.


Semoga Allah senantiasa menguatkan hati dan pundak setiap manusia yang diberiNya kesempatan mengambil peran sebagai Ayah dan Ibu...






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...