Kamu tahu? Dalam jarak,
ada hal yang senantiasa medekatkan. Ia bernama Doa. Darinya lah pengharapan
melantun dalam khusyu’ kepada Sang Khalik.
Ada
yang bilang. Dengan harapan, kita dapat terus hidup.
Tapi
aku percaya, hanya dengan Doa kita dapat merubah Takdir. Harapan dan Doa itu
terbuntal satu ikat.
Setelah
pengiriman abstrak. Aku harap-harap cemas. Bagaimana kalau abstrak kami
diterima? Ini berarti harus ada yang aku korbankan. Dialah Skripsi. Namanya sering
menggaung di benak mahasiswa tingkat akhir, begitu juga di benakku. Di sisi
lain, Jepang seisinya seperti magnet untuk dikunjungi. Sungguh, perasaan ini
kusebut dengan galau. Maaf, tapi bukan galau kacangan tentang cecintaan.
![]() |
| Fwd Email Panitia HISAS dari Takwa |
Hidup
dalam pilihan-pilihan menuntutku untuk mengendalikan nafsu dan jeli dalam
membuat keputusan. Dalam pendidikan Ibu, aku harus siap menanggung
akibat-akibat dari semua keputusanku. Baik atau buruk. Maka, ketika pada
tanggal 16 Desember 2013 aku mendapat kiriman email dari Takwa. Ada yang harus segera diputuskan. Maju atau
mundur.
Ah,
hanya dengan sebuah selembar surat dan aku di dera kegalauan. Tenang. Dalam
kondisi demikian, aku sudah punya obatnya yaitu berjalan kaki sendirian di sore
menjelang senja kemudian sibuk berpikir mengambil pelajaran dari masa lalu
ataupun segala yang aku lihat. Itu memudahkanku membuat keputusan.
...dan
akhirnya. Aku memilih maju. Awalnya, keputusan ini menjadi rahasia besarku. Tak
banyak orang yang aku beritahu, kecuali keluarga. Semuanya sudah aku pikirkan
dan rasanya aku tak perlu menuliskan segala pertimbangan atau niatku saat
menjadikan keputusan itu sebuah rahasia kan? Sebab arti memang tidak melulu
untuk diumbar keberadaannya.
Bismillah.
bersambung

Komentar
Posting Komentar