Pernahkah
terlintas pikir jika bekerja lebih mengasyikkan daripada sekolah? Dengan
bekerja, kita mendapat upah yang kemudian kita belikan buku, pakaian model
terbaru, gadget paling canggih, kendaraan, dan banyak kesenangan lainnya. Beli
apapun bisa tanpa perlu minta Ibu dan Bapak.
Dulu
saat SMA saya pernah terhanyut asyiknya mendapat uang dari hasil jualan gelang,
gorengan, lontong, bahkan baju. Dengan uang hasil jualan, saya jadi bisa jalan-jalan
keliling Bogor, Puncak, dan Banten. Hingga teguran datang dari guru BK karena
nilai semester ganjil di kelas XI turun drastis. Ibu pun turun tangan
menasehati. Saat ditanya Ibu mengenai prestasi belajar saya yang turun, dengan enteng saya jawab, “Capek bu belajar
terus, bosen!” kemudian seperti biasa
Ibu mengomel tanda sayang, “Besok Titis bakal
tahu kalau jadi anak sekolah adalah
pekerjaan yang paling mudah. Tinggal duduk dan belajar. Ndak perlu repot mikir besok dapat uang
atau gak? Anaknya sudah makan atau
belum, blablabla...”
dan seperti biasa juga, setelah omelan panjang
tersebut Ibu akan pergi meninggalkan saya dan saya cuma bisa diam. Hehehe
Tapi
tahukah?
Nasihat
Ibu kembali mengendap dalam jiwa. Hadirnya berarti sebagai alarm saat malas
menyergap. Terlebih saat hidup sendirian di perantauan. Bukankah tak ada Ibu
disini? Jadi kalau saya bolos kuliah atau main ke mall, Ibu tidak akan
mengomeli saya. Nasihat Ibu juga semakin menggaung saat beberapa bulan terakhir
saya belajar mencari penghasilan tambahan. Cari
duit susah, ngabisinnya cepet banget. Belom lagi mikir bayar semesteran sama
uang kosan.
Well, belajar memang pekerjaan
yang paling mudah sekaligus MENYENANGKAN di dunia. Belajar juga bisa dilakukan
dimanapun, kapanpun, dengan siapapun. Akhirnya, skripsi kembali menagih agar segera
dituntaskan dan segera menuju ke tempat belajar lainnya. Tapi, kalaupun setelah
S1 nanti harus bekerja dulu, kita maknai saja bahwa disana juga tempat belajar
kita selanjutnya. Hingga saat penat dirasa akibat tugas yang berat-berat (katanya),
tapi jiwa menganggap mudah dalam menunaikannya dan menjadikan setiap peluh
adalah pelajaran penuh makna.
Wew.
Kalau hidup ini diibaratkan sekolah maka benarlah adanya kalau setiap manusia
adalah guru. Ahh... iya. Kalau begitu, saat kamu baca tulisan ini saya cuma mau
bilang “Terima kasih bapak, ibu, kakak, dan adik guru :))”.
Satu
lagi, doakan ya. Doakan saya berpindah tempat belajar ke salah satu sudut
negeri Sakura.
Baiklah.
Selamat Bekerja!
Komentar
Posting Komentar