Hari-hari
menjadi lebih berliku setelah keputusan untuk maju. Upik membuat proposal
sponsor, aku mencari subjek dan menyelesaikan paper, Takwa mencari informasi
kebutuhan kami selama di Jepang. Selain itu, kami juga butuh paspor dan visa.
Waktu yang tersisa hanya 1,5 bulan. Semua harus kerja dan doa ekstra. Sebab,
kami bertiga butuh DUA PULUH EMPAT JUTA. Total estimasi dana paling murah yang
kami buat.
Sedikit
berbagi mengenai tata cara membuat paspor :
- Bawa berkas-berkas
yang dibutuhkan dalam pembuatan paspor (FC akta kelahiran, FC kartu
keluarga, FC Kartu Tanda Penduduk ukuran 5 x 7, FC Letter of Acceptance (jika diperlukan), FC Surat pengantar
aktif mahasiswa dari masing-masing kampus (biasanya bisa diurus di bagian
kemahasiswaan fakultas masing-masing).
- Setelah pemeriksaan
berkas, kita akan diberikan nota yang harus dibawa ke Bank Negara
Indonesia (BNI) untuk biaya administrasi pembuatan paspor. Biayanya : Rp
255.000,00 (Paspor dibuat bulan Januari 2014). Selain itu kita juga akan
diminta datang untuk wawancara 2-3 hari setelah berkas diperiksa.
- Proses wawancara
dan foto. Jangan lupa membawa Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga asli untuk
di tunjukkan kepada petugas.
- Pengambilan paspor
setelah 2 – 7 hari dari proses wawancara.
Ada
kisah menarik saat proses wawancara dan foto. Pada hari yang dijanjikan, tak
ada satu orang pun yang luang waktunya untuk menemani ke kantor Imigrasi.
Akhirnya, memutuskan berangkat sendirian dengan bus dan turun di Kerten
dilanjutkan naik taksi sampai kantor Imigrasi karena gak tau mau naik kendaraan apa lagi. Nekat merupakan perbuatan
kesekian kali ketika harus berhadapan dengan birokrasi di Indonesia. Kenekatan
kali ini : hanya membawa scan-scanan akta
kelahiran dan kartu keluarga.
Ketika
tiba giliran wawancara, habislah diri ini dengan nasihat panjang petugas
imigrasi sampai mata bekaca-kaca.
Petugas
wawancara : “kenapa gak dibawa berkas
aslinya. Itu lebih penting daripada berkas lainnya”
Saya
: “Maaf pak” (dan alasan panjang saya mengenai rumah saya jauh, berkas perlu
dikirim dan kebutuhan paspor sangat mendesak)
dan...tiba-tiba
buliran air menetes dari mata. Petugas imigrasi pun kaget sambil berkata, “kamu
kenapa nangis? (sambil menyodorkan kotak tissu)”. Pertanyaan tersebut hanya di
jawab dengan kalimat terbata sambil sesenggukan. Asli! Itu tuh malu-maluin
banget sebenarnya. Tapi ya gimana lagi. Akumulasi dari perasaan bersalah dan
capek itu emang gak banget
sodara-sodara!
Melihat
wajah yang menunduk, akhirnya petugas imigrasi berhenti dengan nasihatnya
sambil berkata, “udah diem, kamu kayak di apain aja, makanya besok kalau
ada peraturan dilaksanakan dengan baik. Menjadi tugas saya untuk menindak tegas
warga yang tidak menaati aturan. Hari ini kamu saya bantu. Kapan paspornya
dipakai? Besok? Atau 2 hari lagi ya di ambil. Semoga sukses. Ini tissunya di
bawa aja.”. Mendengar jawaban tersebut makin meluaplah air matanya. Terima
kasih bapak, esok saat pengambilan paspor, Akta kelahiran dan Kartu Keluarga
yang asli akan dibawa.
Tapi...
airmata itu gak berhenti keluar
bahkan saat sudah naik ke dalam bus menuju kampus. Kernet bus pun bertanya,”
kenapa mbak? Habis diputusin pacarnya ya?”. Aku menggeleng. “Oalah, ya
Alhamdulilah. Jangan pacaran dulu mbak. Sekolah dulu, kerja. Nanti kalau sudah
sukses baru pacaran”. Aku mengangguk.
Harusnya
aku tidak menyepelekan hal-hal terkait birokrasi walaupun alurnya panjang dan
rumit. Gak lagi-lagi. Terima kasih ya
wahai bapak petugas Imigrasi yang baik hatinya.
bersambung
Komentar
Posting Komentar