Langsung ke konten utama

#Jepang 6: Paspor

Hari-hari menjadi lebih berliku setelah keputusan untuk maju. Upik membuat proposal sponsor, aku mencari subjek dan menyelesaikan paper, Takwa mencari informasi kebutuhan kami selama di Jepang. Selain itu, kami juga butuh paspor dan visa. Waktu yang tersisa hanya 1,5 bulan. Semua harus kerja dan doa ekstra. Sebab, kami bertiga butuh DUA PULUH EMPAT JUTA. Total estimasi dana paling murah yang kami buat.

Sedikit berbagi mengenai tata cara membuat paspor :
  1. Bawa berkas-berkas yang dibutuhkan dalam pembuatan paspor (FC akta kelahiran, FC kartu keluarga, FC Kartu Tanda Penduduk ukuran 5 x 7, FC Letter of Acceptance (jika diperlukan), FC Surat pengantar aktif mahasiswa dari masing-masing kampus (biasanya bisa diurus di bagian kemahasiswaan fakultas masing-masing).
  2. Setelah pemeriksaan berkas, kita akan diberikan nota yang harus dibawa ke Bank Negara Indonesia (BNI) untuk biaya administrasi pembuatan paspor. Biayanya : Rp 255.000,00 (Paspor dibuat bulan Januari 2014). Selain itu kita juga akan diminta datang untuk wawancara 2-3 hari setelah berkas diperiksa.
  3. Proses wawancara dan foto. Jangan lupa membawa Akta Kelahiran dan Kartu Keluarga asli untuk di tunjukkan kepada petugas.
  4. Pengambilan paspor setelah 2 – 7 hari dari proses wawancara.

Ada kisah menarik saat proses wawancara dan foto. Pada hari yang dijanjikan, tak ada satu orang pun yang luang waktunya untuk menemani ke kantor Imigrasi. Akhirnya, memutuskan berangkat sendirian dengan bus dan turun di Kerten dilanjutkan naik taksi sampai kantor Imigrasi karena gak tau mau naik kendaraan apa lagi. Nekat merupakan perbuatan kesekian kali ketika harus berhadapan dengan birokrasi di Indonesia. Kenekatan kali ini : hanya membawa scan-scanan akta kelahiran dan kartu keluarga.

Ketika tiba giliran wawancara, habislah diri ini dengan nasihat panjang petugas imigrasi sampai mata bekaca-kaca.

Petugas wawancara : “kenapa gak dibawa berkas aslinya. Itu lebih penting daripada berkas lainnya”
Saya : “Maaf pak” (dan alasan panjang saya mengenai rumah saya jauh, berkas perlu dikirim dan kebutuhan paspor sangat mendesak)

dan...tiba-tiba buliran air menetes dari mata. Petugas imigrasi pun kaget sambil berkata, “kamu kenapa nangis? (sambil menyodorkan kotak tissu)”. Pertanyaan tersebut hanya di jawab dengan kalimat terbata sambil sesenggukan. Asli! Itu tuh malu-maluin banget sebenarnya. Tapi ya gimana lagi. Akumulasi dari perasaan bersalah dan capek itu emang gak banget sodara-sodara!

Melihat wajah yang menunduk, akhirnya petugas imigrasi berhenti dengan nasihatnya sambil berkata, “udah diem, kamu kayak di apain aja, makanya besok kalau ada peraturan dilaksanakan dengan baik. Menjadi tugas saya untuk menindak tegas warga yang tidak menaati aturan. Hari ini kamu saya bantu. Kapan paspornya dipakai? Besok? Atau 2 hari lagi ya di ambil. Semoga sukses. Ini tissunya di bawa aja.”. Mendengar jawaban tersebut makin meluaplah air matanya. Terima kasih bapak, esok saat pengambilan paspor, Akta kelahiran dan Kartu Keluarga yang asli akan dibawa.

Tapi... airmata itu gak berhenti keluar bahkan saat sudah naik ke dalam bus menuju kampus. Kernet bus pun bertanya,” kenapa mbak? Habis diputusin pacarnya ya?”. Aku menggeleng. “Oalah, ya Alhamdulilah. Jangan pacaran dulu mbak. Sekolah dulu, kerja. Nanti kalau sudah sukses baru pacaran”. Aku mengangguk.

Harusnya aku tidak menyepelekan hal-hal terkait birokrasi walaupun alurnya panjang dan rumit. Gak lagi-lagi. Terima kasih ya wahai bapak petugas Imigrasi yang baik hatinya.

bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...