Langsung ke konten utama

#Jepang 7: Mundur

“Sore ini kita kumpul ya di Perpustakaan Pusat”. Begitu inti pesan singkat yang di kirimkan kepada Upik dan Takwa.

Lelah dan kesal rasanya. Keraguan memuncak saat usaha-usaha tak kunjung menujukkan hasil. Ahh! Kamu terlalu banyak berkeluh kesah, Tis!

Begitulah. Aku datang ke bagian keuangan prodi diminta ke bagian keuangan Fakultas. Tiba di Fakultas disarankan ke bagian keuangan Universitas. Kutemui dosen, beliau menjawab enteng, “kamu mau berangkat dengan uang siapa? Dosen saja belum ada yang pernah ada yang bisa berangkat”. Saat ditanya mengenai rekomendasi perusahaan untuk diajukan proposal sponsorship hanya jawaban singkat kudapat, “Anda bertanya kepada orang yang salah”.

Berpikir. Berpikir! Beberapa proposal kami sudah tertolak oleh lima instansi atau tokoh. Paper juga menuntut segera diselesaikan. Aku harus memutuskan lagi. Meralat keputusan yang dulu. Sia-sia? Tak pernah ada yang sia-sia. Aku mendinginkan hati.

“Dek, kalian berangkat berdua aja ya. Nanti mbak akan tetap selesaikan papernya. Kalian bawa kesana, kemudian kalian presentasikan. Gak mungkin kalau mbak memaksa berangkat dengan kondisi keuangan seperti ini, kecuali kita dapat sponsor dari Kemenpora seperti mas Dwi” jelasku pada Upik dan Takwa.

Seketika itu juga, aku melihat perubahan wajah pada kedua adikku itu. Pundak mereka ikut mengendur. Tak ada percakapan lagi, hanya tarikan dan hembusan nafas berselang-seling. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. “Mbak beneran gak berangkat?” tanya Upik. Aku mengangguk.

Percakapan sore itu berakhir. Semua pulang dengan kecamuk rasanya.

Kakak macam apa kamu, Tis? Bukannya menularkan semangat tapi malah berlaku sebaliknya. Aku hanya mencoba realistis. Bersiap jika berangkat atau tidak. Aku tak mau melambung harap. Sebab itu pasti menyakiti. Walaupun sore ini ada dua orang yang tersakiti karena keputusanku.

Aku menunduk, mencerna baik-baik keputusanku.
Ya Allah, aku ingat betul nasihat bu Utami, guruku saat kelas VI SD. “Percaya Nak, kalau keajaiban Allah itu pasti ada”.

Masihkah ada keajaibanMu itu yaa Rabb? Masihkah??

Pikiranku tenggelam bersama matahari sore. Aku masih punya sedikit yakin. Pasti ada keajaiban itu...

bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...