“Sore ini kita kumpul ya di Perpustakaan Pusat”. Begitu inti pesan singkat yang di kirimkan kepada Upik dan Takwa.
Lelah dan kesal rasanya. Keraguan memuncak saat usaha-usaha tak kunjung menujukkan hasil. Ahh! Kamu terlalu banyak berkeluh kesah, Tis!
Begitulah. Aku datang ke bagian keuangan prodi diminta ke bagian keuangan Fakultas. Tiba di Fakultas disarankan ke bagian keuangan Universitas. Kutemui dosen, beliau menjawab enteng, “kamu mau berangkat dengan uang siapa? Dosen saja belum ada yang pernah ada yang bisa berangkat”. Saat ditanya mengenai rekomendasi perusahaan untuk diajukan proposal sponsorship hanya jawaban singkat kudapat, “Anda bertanya kepada orang yang salah”.
Berpikir. Berpikir! Beberapa proposal kami sudah tertolak oleh lima instansi atau tokoh. Paper juga menuntut segera diselesaikan. Aku harus memutuskan lagi. Meralat keputusan yang dulu. Sia-sia? Tak pernah ada yang sia-sia. Aku mendinginkan hati.
“Dek, kalian berangkat berdua aja ya. Nanti mbak akan tetap selesaikan papernya. Kalian bawa kesana, kemudian kalian presentasikan. Gak mungkin kalau mbak memaksa berangkat dengan kondisi keuangan seperti ini, kecuali kita dapat sponsor dari Kemenpora seperti mas Dwi” jelasku pada Upik dan Takwa.
Seketika itu juga, aku melihat perubahan wajah pada kedua adikku itu. Pundak mereka ikut mengendur. Tak ada percakapan lagi, hanya tarikan dan hembusan nafas berselang-seling. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. “Mbak beneran gak berangkat?” tanya Upik. Aku mengangguk.
Percakapan sore itu berakhir. Semua pulang dengan kecamuk rasanya.
Kakak macam apa kamu, Tis? Bukannya menularkan semangat tapi malah berlaku sebaliknya. Aku hanya mencoba realistis. Bersiap jika berangkat atau tidak. Aku tak mau melambung harap. Sebab itu pasti menyakiti. Walaupun sore ini ada dua orang yang tersakiti karena keputusanku.
Aku menunduk, mencerna baik-baik keputusanku.
Ya Allah, aku ingat betul nasihat bu Utami, guruku saat kelas VI SD. “Percaya Nak, kalau keajaiban Allah itu pasti ada”.
Masihkah ada keajaibanMu itu yaa Rabb? Masihkah??
Pikiranku tenggelam bersama matahari sore. Aku masih punya sedikit yakin. Pasti ada keajaiban itu...
bersambung
Komentar
Posting Komentar