Langsung ke konten utama

#Jepang 9: Terbang

“Kamu marah ya sama Ibu?”
“Kenapa harus marah, Bu?”
“Karena kemarin kamu gak jadi berangkat ke Padang. Maaf ya bukan maksud Ibu menghalangi keinginan kamu. Ibu hanya khawatir ketika kamu berangkat sendirian ke tanah orang.”
(hening)
“Gak papa, Bu. Besok Allah ganti. Nanti tis akan naik pesawat bahkan tanpa perlu minta uang Ibu”
“Emangnya kamu mau naik pesawat kemana? Lebih jauh dari Padang?”
“Iya, Bu. Insya Allah ke tempat yang lebih baik dari Padang. Insya Allah, Bu.”
(hening)

Kelebat kenangan percakapan bersama ibu hadir saat pesawat lepas landas dari Narita International Airport menuju Chitose Airport di perfektur Hokkaido. Ada telusup haru. Man purposes, Allah disposes. Setiap yang Allah beri selalu yang terbaik bagi hambaNya. Hanya seringkali kita tergesa-gesa. Menyesal dan merasa begitu terpuruk jika satu saja keinginan kita tidak terwujud. Begitulah kuasa nafsu.

Bismillah...
Perjalanan di mulai dari bandara Adi Soemarmo menuju bandara Soekarno Hatta.

Bumi hijau Indonesia dari atas langit (masih di pulau Jawa sih ini)

Lautan Awan. Mau coba berenang? :D
"Mbak sampein sama Ibu, Bapak, Ayu, aku berangkat malam ini. Doakan ya"
Malam itu pukul 22.15 kami lepas landas dari Soekarno-Hatta International Airport menuju Narita International Airport. 

"Gue gak mimpi kan sekarang?" kataku membatin.
Malam itu, bersama dengan orang-orang asing lainnya kami terbang menuju sebuah tempat yang sama-sama menjadi impian kami. Disanalah kami menjejak. Menghimpun hikmah yang terserak. 

Sembilan jam perjalanan di langit, menyebrangi samudra di pekatnya malam kemudian tiba saat matahari terbit. Sebelum landing aku sempat melihat sebuah video dari sky-tv di dalam pesawat ANA (All Nippon Airlines) tentang suguhan penerbangan mereka dengan panorama matahari terbit. Kemudian Allah mengizinkanku untuk menyaksikannya. Live!

Suasana di Narita International Airport ketika kami baru mendarat

Salah satu poster di bandara Narita
Well, touch down Japan! Alhamdulillah. Setelah menjalani beberapa prosedur dari petugas imigrasi, kami bersiap "melahap" inspirasi di negeri Sakura salah satunya : nikmatnya antri tanpa harus ada yang menyerobot. hehe. 

Tiga jam kemudian kami siap melakukan penerbangan selanjutnya. Ya! Ke Chitose Airport kemudian menuju kota Sapporo di perfektur Hokkaido. 

Bismillah (lagi)
Melihat kota Tokyo di ketinggian hingga melihat jajaran pegunungan yang berselimut salju juga puncak Gunung Fuji di kejauhan (sangat-sangat jauh jarak pandangnya jadi gak bisa di foto). Menyebrasi lautan hingga sampai di sebuah pulau yang berselimut salju. 

Tokyo

Lihat perbedaannya

Barisan bukit bersalju

Di atas lautan

Hokkaido

Perjalanan di atas awan itu meninggalkan kesan yang mendalam padaMu Rabb. Berawal dari izinMu untuk menemukan Kuasa-KuasaMu dan bermuara pada lesap syukur  padaMu. Sungguh Allah seagung-agungnya pelukis dari setiap keindahan alam. Takjubnya melihat bumi hijau Indonesia, tanah coklat negeri sakura, lautan awan putih, gelap malam melintasi samudra, deretan bukit dan bersalju dan gunung Fuji dikejauhan.

Rasanya sih tulisan ini sangat norak ya. Hahaha. Maklum. Pengalaman perdana naik pesawat ke luar negeri. Mungkin banyak orang lain yang juga merasakan hal sama namun belum menuliskannya tapi boleh jadi kisahnya menghimpun lebih banyak syukur, kan? Allah selalu punya cara dalam mendidik hambaNya. Keren kan? Kita bisa dapat pemahaman yang sama tapi dengan cara yang beragam.  



Tuhan betapa aku malu atas semua yang Kau beri padahal diriku terlalu sering membuatMu kecewa...dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakanMu, betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMu... -Edcoustic-

bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...