Langsung ke konten utama

Obrolan Meja Makan 4 : Ibu lagi gak makan

Ketika di rumah, adakah tempat yang lebih asik dari meja makan? Rasanya meja makan selalu jadi tempat terbaik untuk berlama-lama. Sebab dalam bentuk kotak ataupun melingkarnya ada cerita-cerita dalam keseharian kita. Cerita rasa kesal, benci, senang, sedih dan lain-lainnya atau sekedar mendengar omelan berbuntal nasihat melelehkan laku jelek kita. Mengingat-ingat sepenggal dialog dengan Ibunda, mengunci maknanya dalam jiwa. Menjadikan bekal untuk tapak-tapak selanjutnya. Seperti kejadian saat siang hari di waktu lalu. Ada rutinitas yang biasa dilakukan oleh seorang anak kecil sepulang sekolah dan seorang Ibu sepulang jualan.

“Ibu gak makan?”
“Enggak, Ibu gak makan. Kamu makan saja duluan.”

Percakapan yang sama pun berulang pada hari-hari tertentu. Menyisa tanya pada si anak kecil karena sang Ibu tidak menemaninya makan seperti hari-hari biasanya.

“Ibu gak makan lagi?”
“Iya, Ibu lagi gak makan. Kamu makan saja duluan”

Ada apa ya dengan Ibu? Menyimpan tanya bagi anak kecil adalah suatu hal yang menyiksa. Hingga suatu hari bu Guru TPA menjelaskan tentang puasa-puasa Sunnah.  

“Selain puasa wajib yang dilakukan di bulan Ramadhan, ada puasa-puasa Sunnah yang dilakukan pada hari dan tanggal tertentu. Ada puasa Senin – Kamis, puasa Ayyamul Bidh, dll”
Ooh...jangan-jangan Ibu tidak mau makan karena Ibu sedang puasa

Siang hari, saat rutinitas itu berulang, bertanyalah si kecil...
“Ibu hari ini gak makan lagi karena puasa, ya? Kok gak bilang aja sama aku sih kalau Ibu lagi puasa.”
“Kan Ibu sudah bilang kalau Ibu lagi gak makan. Makannya nanti kalau sudah adzan Magrib”
“Iya, tapi kenapa Ibu gak bilang aja kalau lagi puasa? Aku sering liat orang yang pada bilang-bilang kalau lagi puasa jadinya mereka tidak dikasih makan. Tapi bu guru pernah bilang juga kalau lagi puasa jangan sampai ada orang lain yang tahu. Ibu gak pengen ada yang tahu ya? Berarti besok kalau aku puasa, aku diam aja ya kalau ditawari makanan, Bu?”
“Besok kalau kamu puasa dan ditawari makan bilang aja. Terima kasih ya, maaf aku lagi gak makan”
“Emang gak bohong ya bu?”
“Enggak. Kan kita beneran sedang tidak makan dan minum di siang hari”

Si kecil merekam percakapan di meja makan itu. Coba meniru  laku bundanya hingga beranjak dewasa dari sekolah-sekolah ia coba rangkai maknanya kenapa harus berlaku demikian.

Dalam beberapa hal, ada yang orang lain berhak tahu. Tapi dalam beberapa hal lainnya, lebih baik jika kita menyimpannya sendiri. Atau kita seringkali dengar, dalam kebaikan jangan sampai tangan kiri tahu apa yang dikerjakan tangan kanan.

Jika nanti, akan ada masa-masa dimana rasa khusyuk adalah perkara yang sangat sulit dicari. Maka, berbahagialah mereka yang tetap fokus pada tujuannya tanpa peduli pada cela atau puja dari sekelilingnya atas kerja-kerja yang sudah dilakukan. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...