Langsung ke konten utama

Saki



Dalam hening malam, ku untai kata sebagai balasan. Betapa setiap pesan tulismu selalu memberikan makna bagi jiwa. Pantaslah jika ia bernama “Ruang Makna”.

Aku sadari benar, malam teramat berartinya bagi kita. Saksi mata bagi dua insan yang masih terus menghimpun hikmah dari banyak peristiwa yang menempa. Kelebat film-film itu, diskusi-diskusi itu, pertanyaan-pertanyaan yang berjebah. Seperti tulismu, “masih mengalirkan semangat bahkan setiap kali aku (hanya) memikirkannya”. Bahkan sekuat mungkin aku menjaga kenangannya. Sebab waktu yang tak pernah bisa terulang itu teramat berjasa bagi perubahanku jua. Dan kita sama-sama tahu, bahwa istiqomah adalah kata yang akan kita eja maknanya sepanjang sisa usia kita.

Saki,

Terima kasih sudah bersabar. Bersabar atas telinga dan mata yang tak bosan mendengar dan membaca banyak luapan rasa

Terima kasih sudah berbesar hati. Berbesar hati memberi sempat dan tempat bagi diriku untuk menjadi bagian dari kisah hidup masa mudamu

Terima kasih atas kejelianmu. Jeli memilihkan buku-buku terbaik yang semestinya aku pelajari

Terima kasih sudah bertahan. Merawat ukhuwah ini. Walau raga berjarak. Apalah arti lima tahun, jika yang sedang kita perjuangkan adalah kebersamaan yang mengekal.

Terima kasih sudah mengizinkanku untuk merasakan hangat setiap kali menjejak masuk dalam atap sederhana itu. Hangat yang aku rasa dari seorang Bunda dan Ayah dengan keluasan ilmu lewat banyak diskusi-diskusi serta nasihat-nasihat bergizi. Tentang perdagangan yang tiada merugi, proposal kematian, perdebatan buku Gie itu, dan lainnya. Juga dua orang adik laki-laki dengan banyak keistimewaan yang mereka miliki.

Terima kasih atas setiap kegelisahan dan inspirasi dari obrolan bersama secangkir kopi dan biskuit better atau segelas jus spesial dari seorang adik yang gigih berusaha untuk ikut serta dalam percakapan kita.

Saki,

Kamu berhasil. Berhasil membuat aku larut bersama lagu-lagu Spirit itu. Juga film-film yang adegannya kita ulang berkali-kali hanya untuk menangkap pesan ceritanya.

Kamu gigih. Gigih mengajakku untuk terus mencapai puncak rasa dari asyiknya belajar dan tak pernah puas akan ilmu

Kamu berani. Berani mengingatkan segala letup pikirku yang kadang nyeleneh, meluruskannya hingga memahamkan ku lewat tulisan dalam surel-surel itu

Saki,
Kamu guru. Guru kehidupan bagi anak-anak itu juga bagiku

Maka, mengingat awal pertemuan dulu selalu melesatkan syukur pada qalbu. Lagi dan lagi

Peringatan yang satu tahun sekali ini semoga selalu jadi penambah eratnya “genggaman” kita untuk berlari di jalan yang usianya lebih panjang dari usia kita. Bahwa bahagia sebenarnya adalah ketika iman itu masih tergenggam seperti pesanmu tentang langit gelap tanpa bintang. Tapi kita yakin bahwa di angkasa bintang selalu ada dan bersinar.

Semoga Allah izinkan kita menjadi bagian dari prajurit-prajurit terbaikNya.
Hingga Allah ridhai kita berjumpa di suatu tempat yang kita rindu bersama
Hanya dengan memegang teguh yang dua, yakni syukur dan sabar yang bermuara padaNya
Aku tak mau terlihat bahagia tapi ternyata aku hanya tergiur pada yang fana
Aku tak mau bebas merdeka jika bukan tenang puncak dari segala rasa
sedangkan Allah kita sudah menuliskan dalam karya agungNya bahwa tenang hanyalah bersamaNya
Semoga dunia tidak pernah menjadi satu-satunya obsesi terbesar kita

Waktu berputar. Peran berganti. Pun orang-orang yang membersamai. Tapi ada yang tak terganti. Sesuatu yang melekat dalam doa di hati

Semoga Allah meridhai persahabatan ini...

Hanya untukmu, SF













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...