Bagi sebahagian orang, malam hanyalah menyisa
kelelahan yang wajib di bayar dengan melumaskan punggung pada tumpukan kapuk
yang bergumpalan. Tapi bagi sebahagian lainnya, malam menjadi curahan
kesyahduan seorang hamba untuk bermanja pada nikmat Tuhannya.
Seperti malam ditengah-tengah lorong rumah
sakit. Setelah seharian mendengarkan
segala luap perasaan. Ada letup kebanggaan padanya yang amat besar hatinya
untuk setia menjaga. Menjaga seseorang yang hampir 25 tahun membersamainya.
Dalam waktu lima hari, dari pagi hingga bertemu pagi, raga itu
selalu beriring mendampingi. Makan soto sepiring berdua, tergopoh mengantar ke
toilet, seolah tak ingin ketinggalan setiap bagian penting di ruangan berbau
obat itu.
Jika
ridha Allah itu terdapat pada ridha seorang suami pada istrinya, maka besarnya
jiwa perempuan ada pada keikhlasan mencari keridhaan tersebut.
Ialah perempuan yang aku sebut dalam kesehariannya dengan
panggilan Ibu.
Bangun paling pagi untuk memarut bumbu. Berlelah seharian
menahan lapar padahal setiap pagi tak bosan bertanya “mau sarapan apa?” atau
sekedar berkata “itu susunya, diminum ya”. Walau berkeluh kesah karena peran
ganda yang di jalaninya tapi tak jua kami melihat surut perjuangannya. Hingga
malam di rumah sakit. Aku tertegun pada kesetiannya. Menjaga tanpa diminta. Bertahan
walau onak duri tak berkesudahan.
Pikirku mengembara dalam kehidupan layar kaca.
Pemuda-pemudi kita di buai pemberitaan selebriti dengan euforia megahnya sebuah
resepsi pernikahan hingga berita perceraiannya. Sementara diantara banyak
kehidupan manusia lainnya, ada yang memulai pernikahan dengan sederhana dan
mereka menjadi pasangan yang sekuat tenaga menjaga layar biduknya agar selamat
sampai pada tujuan. Mereka itulah yang sebenarnya lebih layak menghiasi
pandangan mata kita.
Jelilah mata kita menangkap laku teladannya
Jernihlah pikir kita mengambil hikmah kehidupannya
Tajamlah rasa kita pada kebaikan yang ditularkannya
Yakinlah laku kita dalam melipatgandakan inspirasinya
Hingga berkah itulah puncak gapaiannya
Bertanyalah pada diri tentang kesiapan menjalani
hari-hari panjang itu.
Sementara dalam bermasyarakat kian samar kita cari arti
cinta sebenar. Salah menjadi benar, sedangkan benar menjadi cibiran. Maka
inilah perjuangan. Generasi gemilang tak mungkin lahir tanpa waris keluhuran
pekerti. Mencari ilmu, mengadabkan diri. Tak lupa ikat dengan doa dalam hati
Robbanaa
hablanaa min azwaajinaa wa dzurruyyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil
muttaqiina imamaa
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertakwa” (Q. S. Al Furqan : 74)
Tak akan pernah aku menuliskan ini,
tanpa teladanmu Bu, Pak :’)
Moga kalian berdua selalu disayang
Allah.
Komentar
Posting Komentar