Langsung ke konten utama

Selesai Dengan Diri Sendiri

Dua pekan lalu, di salah satu bangsal rumah sakit kota Depok. Ada pelajaran berharga dari seorang Bapak kepada anak perempuannya. Bapak yang tidak pernah bosan membersamai anak perempuannya lewat nasihat juga teladannya.

Seharian beliau berkali-kali bilang “Bapak pulang hari ini, nduk”. Hingga kami berkali-kali mengangguk, mengiyakan keyakinannya untuk pulang. Pagi berganti siang. Siang menjadi sore. Di penghujung sore hari itulah, Dokter akhirnya datang. Melihat sosok berjas putih mendekat ke ranjang, memeriksa tensi dan memainkan stetoskopnya kemudian berkata “Bapak boleh pulang”. Setelah mendengar perkataan dokter, ada senyum yang tersungging dari bibirnya ke arah kami. Senyum yang bermakna “Bener kan, Bapak hari ini pulang.”

“Nduk, nanti ke pasar ya, beli kue atau buah buat susternya,” ujar Bapak padaku.
“Iya, nanti kalian berdua (aku dan adik) ke pasar ya beli buah 3 kg,” kata Ibu menimpali

Aku membatin. Baru kali ini ada seorang pasien yang ingin pamitan pulang tapi begitu repot memikirkan apa yang akan ditinggalkannya untuk suster rumah sakit.

“Susternya baik-baik, Nduk. Ada yang asalnya Klaten juga,” sembari membuka dompet dan menyerahkan selembar uang.

Tidak hanya Bapak, Ibu juga menyerahkan selembar uang. Genaplah uang mereka ditanganku. Pertanda amanah membelikan kue atau buah untuk suster harus segera dilaksanakan. Kami pun bergegas pergi menjalankan tugas.

Di luar hujan. Berpayung jaket, kami berlari-lari kecil menuju sebuah toko roti. Kebersamaan kakak beradik yang jarang sekali dilakukan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Setelah memilih dua kotak roti, kami kembali ke rumah sakit.

“Ini Pak, Bu, rotinya.” ujarku pada Bapak dan Ibu sambil menyerahkan dua bungkus plastik.
“Terima kasih, ya.” Jawab Ibu.
“Nanti dikasihkan ke susternya ya nduk.” timpal Bapak.

Setelah urusan administrasi dan obat-obatan selesai, kami pulang. Serah terima kotak roti pun dilakukan. Sambil berjalan di belakang Bapak dan Ibu menuju lobby rumah sakit, dadaku sesak dengan syukur dan perasaan bangga pada keduanya.

All praises to Allah. AlhamduliLlah. Terima ya Rabb, hamba terlahir dari keduanya. Dari pemilik dua hati yang ringan memberi walau sedikit yang kami punya, walau sedikit yang kami beri.

Seketika memori otak me-recall saat sesi training value Bakti Nusa tentang menjadi pemimpin yang selesai dengan diri sendiri. Aku membatin, Bapak, Ibu kalian layak menjadi teladan akan kalimat tersebut. Selesai dengan diri sendiri. Hujan sudah berhenti, langit cerah. Semesta menyambut kepulanganmu ke rumah, Pak.

   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...