Langsung ke konten utama

Jiwa yang Menyala

Teruntuk para pemilik jiwa yang senantiasa merawat nyala semangatnya serta menularkan kebaikan pada sesama. Pastikan bahwa kebaikan itu tidak pernah berhenti pada diri kita.

Ada yang seringkali hilang dalam jiwa seorang pemuda. Tersebab banyaknya tuntutan zaman yang mengaburkan pandangan kita pada tujuan sebenarnya. Hingga kita lupa. Lupa untuk bersikap jujur pada diri sendiri. Padahal, diantara banyak cerita. Kejujuran adalah benih bagi kebaikan yang bertebaran di muka bumi. Setidaknya ada tiga kejujuran yang dapat kita renungkan untuk bekalan perjalanan : kejujuran dalam tekad, pikir, dan tingkah laku.

Kejujuran dalam tekad. Ialah kita yang seringkali dengan mudahnya menuliskan mimpi-mimpi untuk bermanfaat terhadap orang lain. Tapi lebih sering pula kita abai dengan keadaan teman sekelas kita yang bahkan tidak mampu membayar uang SPPnya. Juga tentang dia, si anak kecil yang hampir setiap harinya kita jumpa dalam perjalanan menuju kampus ternyata tak sampai dirinya untuk mengecap pendidikan di bangku sekolah.

Kejujuran dalam pikir. Ialah kita yang seringkali lebih mudahnya berprasangka tentang dia dan mereka. Padahal prasangka itu yang lebih sering di benci Allah Yang Maha Esa. Mudahnya berprasangka menjadi cermin kurangnya ilmu kita, dan sejatinya kejujuran dalam pikir hanya akan diperoleh lewat kesungguhan serta kesabaran dalam mencari ilmu. Kemudian kita menghimpun hikmah-hikmahh dari tiap peristiwa, menginternalisasikannya dalam wujud keluhuran pekerti. Mengadabkan diri.

Kejujuran dalam tingkah laku. Ialah kita yang seringkali kecewa terhadap mereka yang ingkar terhadap kepercayaan yang telah diberikan kita pada mereka. Namun sebenarnya, kita lebih sering lagi menodai kepercayaan yang Allah titipkan pada dua bahu kita. Bahwa Ia tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Tapi pernahkah, dalam suatu ujian yang diberikanNya itu, kita justru iri melihat pekerjaan orang lain dan kita tidak percaya dengan kemampuan diri kita sendiri?

Wahai jiwa-jiwa yang menyala.
Indonesia masih membutuhkan banyak orang baik. Maka, jadilah satu orang baik diantara banyaknya bonus demografi pemuda yang akan memadatkan pentas kepemimpinan Indonesia kelak. Hingga kita percaya, bahwa janji kemuliaan itu akan tiba bagi mereka, para pemuda yang terus merawat kejujuran pada dirinya. Kejujuran tekad, kejujuran pikir, kejujuran dalam setiap laku perbuatan.

Wahai jiwa-jiwa menyala.
Sesungguhnya kejujuran itu menjadi salah satu kunci untuk kita selesai dengan diri sendiri. Sehingga kepercayaan diri itu akan lahir, menduplikasi menjadi lebih besar untuk melahirkan banyak kebaikan di muka bumi.   

Wahai jiwa-jiwa menyala.
Pastikan letup semangat itu terjaga sampai dunia mencahaya oleh bertebarannya kebaikan atas izinNya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...