Menjejaklah wahai
insan
Merunduk takzim
dalam renungan
Bertanya pada
jiwa dalaman
“Akankah dilepaskan,
sesuatu yang menjadi doa dan harapan?”
Ialah bahagia. Kata
yang banyak didamba setiap manusia. Tak jarang kita mengharap
dalam doa untuk hadirnya pada jiwa. Sedangkan dalam kemunculannya seringkali
kita alpa. Sebab abai menjadi kecenderungan manusia. Hingga kesyukuran selalu
menjadi hal langka saat keberadaannya. Mungkin kita yang harusnya lebih jeli
memakna bahagia. Agar Allah menjaga syahdu dan nikmatnya.
Sebagian dari kita menemukan
bahagia saat menggenap dengannya yang tersebut sebagai belahan jiwa. Mengarungi
bahtera menuju Sa-Ma-Ra. Padahal semua bagian cerita hanya takdir yang telah di
tulisNya. Maka ketika menggenapnya rasa, dimanakah bahagia sebenarnya?
Sebagian pun mengartikan tawa
sebagai wujud zahir dari hadirnya bahagia. Namun, justru seringkali air mata
lebih mewakili rasa sebenarnya. Rasa berharap yang besar, ketakberdayaan, juga
kecilnya kita sebagai manusia. Hanya dengan air mata kita jauh lebih bisa
merasakan keberadaanNya, bukan sebaliknya. Lantas mana yang seharusnya lebih
mengkhawatirkan diri kita, terlalu banyak tertawa atau tidak pernah menangis?
Banyak dari kita yang
menganggap harta adalah segalanya. Sebab dengan harta ditemukanlah bahagia.
Namun, belum cukupkah kita harus belajar dari banyak orang kaya yang lebih
memilih untuk segera mengakhiri hidup daripada menikmati kekayaannya? Sebutlah
Michael Jackson, Robin William, bahkan beberapa tokoh psikologi yang membuat
teori tentang jiwa, tak kurang mereka dibanggakan dunia, tapi mengapa kebanggan
mereka seperti uap dalam udara?
Kadang pula kita merasa bahagia
saat di puji atas pencapaian-pencapaian fisik kita. Wajah cantik/tampan yang
kita miliki, prestasi akademik maupun non akademik kita. Namun, tidakkah
sebenarnya pujian jauh lebih sering membuat kita justru masuk ke dalam jurang
kesombongan dan kecintaan pada dunia yang semakin menjadi-jadi. Hingga perasaan
iri kadangkala datang dan menggerogoti hati. Duhai diri, adakah tenang
kita dapati saat perasaan iri menghinggapi? Adakah ketenangan, saat kesombongan
menyelubungi?
Kepada siapapun yang memulai
untuk menuliskan atau mengatakan sebuah kalimat “jangan lupa bahagia”. Terima
kasih. Sebab sudah membuat diri ini tenggelam dalam pikir dan renung yang
dalam untuk mendulang maknanya, bahwa kalimat tersebut bukanlah pesan biasa.
Jika bahagia selalu identik
dengan perasaan tenang yang mengiringinya. Sedangkan tenang hanya akan
diperoleh saat bersamaNya. Maka jangan lupa bahagia adalah sebuah pesan
berharga “jangan sekali-kali melupakanNya". Lantas mengapa kita seringkali
mencari kebahagiaan pada selainNya?
Komentar
Posting Komentar