Dalam hidup. Ada hal-hal
yang memang menjadi tugas kita untuk memikirkannya. Namun, ada pula
pikiran-pikiran lainnya yang bukan menjadi wilayah kita menjangkaunya.
Kita punya batas.
Amat terbatas. Memikirkan sesuatu yang bukan menjadi tugas kita memikirkannya
sama saja dengan berbuat tidak adil pada diri kita.
Rezeki, kematian,
jodoh itu bukan wilayah kita untuk memikirkannya. Sebab, Allah sudah memikirkan
itu semua lebih dulu. Lebih baik daripada yang kita pikirkan. Atau sebenarnya
bukan kita pikirkan tapi kita takutkan? Allah bahkan sudah menuliskannya di
Lauhul Mafhudz. Maka, sebuah kewajaran saat kita memikirkan sesuatu yang itu
menjadi hak Allah untuk memikirkannya, kita bakal ngerasa capek sendiri. Karena daya jangkau kita gak bisa sampai situ. Gak sampai pikiran
kita untuk memikirkan dan menjaminnya menjadi baik bahkan terbaik.
Tapi…dengan
begitulah akhirnya kita tahu betapa terbatas kita. Amat terbatas. Hingga akhirnya
kita berharap. Memiliki dan membuat harapan. Harapan inilah yang akhirnya akan
menjadi bahan bakar bagi usaha-usaha terbaik dan juga kesabaran kita.
Maka terus berharap hanya pada Dia. Sembari kita belajar
menempatkan diri pada segala sesuatu yang menjadi tugas kita sebagai hamba serta
tugas Allah sebagai Rabb, Pemilik Seluruh Semesta.
Komentar
Posting Komentar