Langsung ke konten utama

Menempatkan Pikiran


Dalam hidup. Ada hal-hal yang memang menjadi tugas kita untuk memikirkannya. Namun, ada pula pikiran-pikiran lainnya yang bukan menjadi wilayah kita menjangkaunya.

Kita punya batas. Amat terbatas. Memikirkan sesuatu yang bukan menjadi tugas kita memikirkannya sama saja dengan berbuat tidak adil pada diri kita.

Rezeki, kematian, jodoh itu bukan wilayah kita untuk memikirkannya. Sebab, Allah sudah memikirkan itu semua lebih dulu. Lebih baik daripada yang kita pikirkan. Atau sebenarnya bukan kita pikirkan tapi kita takutkan? Allah bahkan sudah menuliskannya di Lauhul Mafhudz. Maka, sebuah kewajaran saat kita memikirkan sesuatu yang itu menjadi hak Allah untuk memikirkannya, kita bakal ngerasa capek sendiri. Karena daya jangkau kita gak bisa sampai situ. Gak sampai pikiran kita untuk memikirkan dan menjaminnya menjadi baik bahkan terbaik.

Tapi…dengan begitulah akhirnya kita tahu betapa terbatas kita. Amat terbatas. Hingga akhirnya kita berharap. Memiliki dan membuat harapan. Harapan inilah yang akhirnya akan menjadi bahan bakar bagi usaha-usaha terbaik dan juga kesabaran kita.

Maka terus berharap hanya pada Dia. Sembari kita belajar menempatkan diri pada segala sesuatu yang menjadi tugas kita sebagai hamba serta tugas Allah sebagai Rabb, Pemilik Seluruh Semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...