Langit
malam berhias lampu-lampu jalan kota Jakarta masih menjadi suguhan yang menarik
untuk dinikmati. Sabit Syawal menampakkan dirinya. Mataku tertuju pada
lengkungnya di langit. Namun, pikirku mengembara pada kenangan bersamanya.
Bersama Bapak.
Satu
tahun lalu, tepat satu tahun ketika tangan itu merangkul pundakku erat dan ia
memberikan nasihat-nasihat kehidupan yang ternyata menjadi bekal terakhir
bagiku.
Jakarta memang “keras”
tapi juga indah.
Jakarta
terlihat “keras” jika kita melihatnya dari sisi materi atau kisah-kisah
kehidupan dalam tulisan Moammar Emka
yang berjudul Jakarta Undercover.
Tapi, Jakarta juga menyimpan banyak keindahan dalam budaya, sudut-sudut kota, beragam
peninggalan dan riwayat sejarahnya. Wajar jika Koes Plus berhasil mempopulerkan
sebuah lirik “ke Jakarta aku kan kembali,
walaupun apa yang kan terjadi” dalam lagunya yang berjudul Kembali Ke
Jakarta.
…dan
hari ini, aku mulai kembali ke haribaanmu Jakarta. Setelah enam tahun belajar
di sebuah kota yang memberikan banyak kebijaksanaan hidup.
Ku
hela nafas, ku tatap lengkung di atas langit itu lekat-lekat. Aku membatin, “Pak,terima
kasih sudah menjadi perantara Allah untuk mendidikku menjadi gadis yang kuat di
kota ini”.
Well, aku tahu bahwa Allah
Maha Mendengar. Jadi, walaupun ku katakan kalimat itu dalam diam atau aku
memilih meneriakkannya, esensinya tidak akan berkurang. Sebab Allah selalu
lebih pandai untuk memahami setiap pinta hambaNya.
Sabit itu seperti
tersenyum.
Sampai
jumpa Pak, sampai bertemu dengan senyum terbaik di kehidupan yang lebih baik
daripada disini.
Kelak…
aku pun akan kembali…
Komentar
Posting Komentar