Langsung ke konten utama

Sosial Media dan Masa Penantian



Di suatu siang, ada percakapan berkesan dengan kakak guru.

“Mbak, kemarin habis diskusi sama teman. Ternyata ujian terberat manusia adalah masa menunggunya, ya...”
“Iya... makanya jangan sampai postingan kita di FB, Twitter, Instagram, dllnya membuat orang lain menjadi tidak ikhlas dalam menjalani masa-masa menunggunya.”

Aku diam. Mengulang kalimat itu dalam hati.
Jangan sampai postingan kita membuat orang lain tidak ikhlas dalam menjalani masa-masa menunggunya.

Mungkin, bagi orang seusiaku kata menunggu identik dengan makna menunggu jodoh. Hehehe. Tapi, kalimat yang disampaikan guruku tidak bermakna sesempit itu.

“Kita tidak hanya sedang menunggu jodoh, dik. Coba renungkan baik-baik, hampir dalam setiap level kehidupan kita akan menjalani masa-masa penantian. Ada yang menunggu dosen untuk bimbingan, menunggu kepastian tanggal sidang, menunggu jodoh, menunggu kelahiran anaknya, menunggu perjumpaan dengan orang tua yang terpisah oleh jarak dan waktu, menunggu panggilan kerja, menunggu kabar kehamilan, menunggu penumpang, menunggu bus, dan banyak lagi. Namun, diantara semua waktu menunggu, ada waktu yang kita sering abaikan. Hakikat penantian kita yang sebenarnya. Menunggu panggilan Dia atas diri kita, kan?”

Kemudian beliau tersenyum.
Senyum simpul yang biasa diberikannya padaku setiap kali aku diam dan merenungkan kata-katanya.

“Ya... bukankah sesama Muslim harus saling menyayangi? Kalau sayang sama saudaranya, maka harus berhati-hati dengan setiap postingan di media sosialnya. Kita semua sama-sama sedang belajar tentang keikhlasan atas setiap penangguhan yang Allah berikan pada diri manusia, atas setiap masa penantian kita.”. Oke?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...