Langsung ke konten utama

Seorang Pembuka Jalan-Jalan Kebaikan

15 Desember 2018


00.30, perutku terasa sakit yang aneh dan belum pernah kurasakan. Jangan-jangan ini yang dinamakan kontraksi sungguhan bukan kontraksi palsu lagi. Ku tahan kram yang menjalar di perutku itu. Satu jam kemudian. Kenapa terasa ‘slemet-slemet’ terus ya? Masa lahiran hari ini, padahal pagi hari suami mau wisuda, esoknya harus tes SKB di Jogja. Allaaaah….

Rasa sakit yang aneh itu pada akhirnya memberikan dorongan kuat untuk membangunkan suamiku yang sedang terlelap. Setelah ke kamar mandi munculah tanda-tanda persalinan lainnya.
“Ayok ke bidan sekarang”
“Jangan.. nanti aja nunggu ba’da shubuh sekalian”
Dua jam yang berjalan lambat bagiku karena rasa sakit aneh yang membuatku tidak nyenyak memejamkan mata. Sebakda menunaikan sholat shubuh, suamiku dengan sigap menyiapkan tas dan memberitahu seisi rumah bahwa sudah ada tanda-tanda persalinan.. Aku di rundung kegalauan..
“Bi, kalau nanti gak bisa datang wisuda, besok gak bisa ikut SKB ikhlas, ya?”
Sorot matanya yang menjawab, semua akan baik-baik aja. Positif thinking!

Sesampainya di bidan dan menjalani serangkaian pemeriksaan serta menjelaskan kondisi bahwa ada dua agenda penting dalam hidupku yang mesti ku lalui, Sang Bidan justru bilang, “Wes mbak tak dongakne kontraksinya hilang”. Mengetahui rasa sakit yang aneh itu pertanda masih bukaan satu, aku beristighfar, “Ya Allah sebegini rasa sakitnya baru bukaan satu, gimana rasanya bukaan sempurna?” Aku menghela nafas menenangkan diri.

Begitu tiba di rumah, Ummi menyarankan untuk berangkat wisuda karena proses persalinan dari bukaan 1 hingga 10 membutuhkan waktu yang lama apalagi saat melahirkan anak pertama. Aku pun menurut. Sembari menahan kantuk, hari baik ini harus tetap dirayakan apalagi untuk yang terkasih.
Di antara gedung Auditorium dan Rektorat, aku duduk menunggu para wisudawan lewat. Mencari-mencari suamiku di deretan panjang manusia bertoga. Hingga saat barisan senat memasuki auditorium. Aku tak tahan lagi menahan nyeri dan memutuskan untuk menunggu di mushola Rektorat saja.

Waktu menunjukkan pukul 10.30. Aku menantinya datang dengan segenggam bunga. Sungguh bangga melihatnya bertoga, mengingat-ingat perjuangan beliau 8 tahun terakhir untuk menuntaskan amanah akademiknya. Hari itu ia nampak gagah dan tampan dengan pakaian wisudanya. Namun, tak bisa di tahan lagi... Ditengah hiruk pikuk euforia wisuda siang itu, rasa nyeri diperutku semakin sering datang dan tak tertahan. Mobil pun segera di lajukan kembali menuju Sang Bidan. Pemeriksaan dilakukan kembali, dikatakan oleh bidan, “ini baru bukaan dua”. Tersebab rasa sakit yang semakin sakit dirasakan, aku memutuskan untuk menanti persalinan di tempat Sang Bidan.

Ku tatap wajah-wajah lelah itu. Suamiku, adik-adik yang bergantian berjaga, juga Ummi. Tak bosan mengingatkan untuk minum dan mengisi perut untuk simpanan energi saat proses persalinan. Kipas angin disamping ranjang yang terus berputar berhasil membuat badan dan perutku menolak segala jenis makanan dan minuman. Aku muntah beberapa kali selama proses bukaan menuju persalinan. Waktu pun terus berputar, hingga selepas maghrib aku sempat mengutarakan keputusasaanku pada suami untuk segera menyudahi rasa sakit ini dengan membedah perutku dan melakukan operasi Caesar. Sorot mata itu ada lagi, ditambah kalimat, “Umi pasti bisa” itu menjadi penegas bahwa aku harus terus berjuang.

Jam 9 malam. Aku hampir menangis merasakan sakit akibat kontraksi. Ku paksa orang-orang memanggil Bidan dengan segera untuk memeriksa yang sedang terjadi pada diriku. Begitu bidan datang dan mengatakan bahwa sudah bukaan 5, aku pun diperbolehkan untuk pindah ke kamar persalinan. Di dampingi suami dan Zainab adik keempat suamiku, aku melewati bukaan 6 hingga 10 yang menyakitkan itu dengan semangat mereka. Tak henti keduanya menahan posisiku untuk tetap berbaring menghadap kiri meskipun aku mengeluh sakit berulang kali. Tak bosan pula keduanya untuk mengingatkan beristighfar dan menghembuskan nafas setiap kali kontraksi muncul. Keduanya juga bersabar dengan tingkahku yang nyaris marah karena menahan dorongan untuk mengejan.

Ketika bidan senior datang… Aku berkata padanya, “Sakit bu, sakit banget”. Beliau menjawab, “Iyaa memang sakit, dan itu harus dilalui. Alhamdulillah in syaa Allah ini sudah takdir Allah mbak. Malam ini anaknya lahir, besok njenengan bisa ikut tes CPNS. Ini sudah takdir Allah.”Aku merasa lebih lega dan nyaman dengan perlakuan dan tutur kata beliau. Kulihat pula bibirnya terus berdzikir, aku pun menjadi semangat untuk segera mengakhiri rasa sakit itu.

Masuk ke bukaan lengkap. Bidan senior mulai memasang infus karena kontraksi di perut yang tidak stabil kemudian memimpin persalinan. Setiap kali kontraksi muncul aku merasa bersemangat untuk segera mengakhiri proses persalinan ini dan segera melihatnya. Bidan senior pun selalu memuji saat aku mengejan, dikatakannya, “Bagus.. ini sering senam hamil ya.. Bagus mengejannya.. yuk terus dilanjutkan”. 

Setiap kali kontraksi datang, aku coba untuk tetap dalam kesadaran dan menjaga fokusku untuk mengejan seperti pesan pelatih senamku. Pujian dari Bidan senior sangat membantuku untuk tidak berputus asa mengejan. Hingga setiap ada kemajuan atau tanda-tanda keluarnya bayi, suamiku selalu memberitahuku
“Rambutnya udah kelihatan, mi”
"Kepalanya udah kelihatan, mi. Sedikit lagi"

Bidan yang lain pun ikut tersenyum, terlihat santai, menganggukkan kepala, dan mengatakan sudah kelihatan bayinya.. Aku seperti mendapat kekuatan baru, tak terasa kantuk sedikitpun justru aku ingin benar-benar segera bertemu dengannya. Hingga disaat jeda perutku tidak berkontraksi, Bidan senior meminta semua yang ada di ruangan untuk membaca surat Al Fatihah. Ajaib! Begitu semua orang selesai membaca surat Al Fatihah dan berujar Aamin…. Kontraksi diperutku menghebat, aku mengejan kuat dan mendengar Bidan senior memintaku untuk terus mengejan, “Ayo mbak, kuat gak kuat terus mengejan yaa”. Aku pun menurut. Dua orang bidan pembantu mendekat ke perutku kemudian mendorong kearah jalan lahir kemudian aku merasakan ada yang meluncur hangat yang setelahnya aku mendengar tangisan seseorang yang selama ini aku rindukan..

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tattimushshalihaat..

Allahu Akbar. Maha Besar Allah yang telah mengatur semua bagian-bagian dalam hidup manusia secara adil. Wisuda yang membanggakan, suara tangis yang justru menyejukkan hati, dan detik-detik yang terus melaju pada kesadaran bahwa setelah ini masih ada perjuangan lain.

16 Desember 2018

Pagi itu, kubisikkan ditelinga mungilnya, “Kakak, hari ini Umi tes dulu ya. Kakak yang sabar nunggu Umi datang hingga maghrib nanti. Nangis boleh, tapi sabar ya menahan lapar dan haus dulu.” dan tubuh mungil itu sangat bersabar selama dua hari selama kepergian Ibunya. Ia pun menahan tangis demi mengingat pesan Uminya yang lain. Maha Besar Allah yang menjadikan telinga seorang bayi begitu peka. Allah akan selalu menjaga Kakak, lebih baik daripada penjagaan Umi dan Abi..

Di hari ketujuh terbitlah nama itu Muhammad Al-Fatih. Nama yang mengandung banyak makna dan arti salah satunya sebagai pembuka. Mengingat sejarah kelahirannya dan pengumuman hasil tes 2 minggu setelahnya, aku menahan haru melihat wajahnya yang terlelap, “Le, terima kasih sudah menjadi pembuka bagi Umi dan Abi” semoga nantinya kamu akan menjadi pembuka jalan kebaikan bagi banyak orang

Aku jadi ingat sorot mata itu, benar kan? Semua akan baik-baik saja. Positif thinking.

Terima kasih Abi.. Terima kasih…

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...