Langsung ke konten utama

Hangatnya Hari Ini

Hari ini terasa hangat. Rasanya senaaaaaaaaang sekali melihat wajah-wajah dosen yang berjasa besar bagi kehidupan saya hingga titik ini, meski hanya bisa menatap nama-nama mereka atau wajah mereka lewat layar HP karena laptop tiba-tiba soundnya hilang. Bagi saya, beliau-beliau itu bukan hanya dosen, tapi bisa jadi teman, sahabat, pemimpin, bahkan Ibu dan Bapak. Saya pernah nangis, sebel, dimarahi, juga tertawa sampai terbahak-bahak dengan beliau-beliau.

Ketika asesor bilang "tolong ceritakan apa yang Anda dapatkan dr Psikologi UNS?" Saya rasanya ingin bicara banyak. Tapi ya gimana ya.. Saat nama saya di panggil pak Adit selaku Kaprodi "mbak Titis", saya sedang menggendong nak lanang karena muring2 ngantuk, belum lagi nak lanang satunya muter muyer panggil umi-umi sedangkan abinya anak-anak baru benerin speaker laptop yang eror. Sampai dikirimi screenshot foto pas ngomong sama mbak Dyah wakkakaka. Perjuangan zoom di rumah memang penuh peluh keringat.

Karena energi saya untuk bisa bicara tidak tersalurkan hari ini. Yawis, tak buatkan tulisan aja. Mbok menowo ada keajaiban yang menghantarkan tulisan ini sampai ke Prof. Seger..hehe

Saat ditanya tentang apa yang Psikologi UNS berikan? Tentu saja jawabannya BANYAK! Teringat awal pertama menginjakkan kaki di Solo, kemudian kuliah di kampus Tirtomoyo dan Mesen. Meski pas Osmaru sempet di 'bengoki' sama kakak tingkat karena dibilang mau jadi pahlawan tapi mereka2 juga yang mengenalkan saya dengan asyiknya bermain seperti atau dengan anak2.. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ikut jadi relawan saat bencana gunung Merapi meletus. Mahasiswa semester 1 sudah diberi kepercayaan melakukan asesmen korban letusan merapi di daerah Klaten. Seminggu bisa 2 - 3 kali motoran Solo-Klaten kota untuk sesi trauma healing dengan anak-anak. Dan salutnya mbak2ku yang ma syaa Allah itu masih berkiprah di dunia pendidikan dan anak2 dengan passionnya masing2. Mantap surantap!

Gak cuma disitu.. Lewat Psikologi UNS, akhirnya Himapsi bisa bikin Sekolah Binaan dan sebelumnya asesmen dulu jadi sesuai kebutuhan anak2 binaan yang akhirnya itu dibawa pas di BEM buat ngelola Sekolah Binaan juga. Terbukti pak Kepsek senang sekali dengan program2 yang diberikan.
Tidak berhenti disitu, selama saya menjabat sebagai Mentri Sosma dosen-dosen selalu support ketika diminta kolaborasi untuk Tim UNS Peduli Bencana. Setidaknya ini yg ingin saya sampaikan kepada asesor dan khalayak ramai.. Meski usia Psikologi UNS baru 1 Dasawarsa tapi untuk pengabdian kepada bangsa, utamanya saat terjadi bencana atau krisis, psikologi UNS pasti ambil bagian disana.. Seperti saat Pasar Klewer kebakaran kami melakukan pendataan  korban yang mengalami kerugian akibat ulah si Jago Merah dan pendampingan psikologis.. Mungkin kalau warga Solo pasti ingat dulu banyak tulisan "Gusti Ora Sare, Ayo Bangkit Rame-rame" atau "Pasar Klewer Bangkit" itu ide slogannya dari dosen Psikologi UNS, namanya Pak Nugraha.

Saat bencana longsor Banjarnegara pun kami mengirimkan tim secara bergilir selama 1 bulan. Asesmen, trauma healing sampai memberikan pelatihan kepada guru2 setempat.. merasakan mencekamnya perjalanan menuju sana dan pusingnya nyari kendaraan juga supir untuk antar jemput giliran jaga.. mau ngeluh juga gak bisa semuanya ngurusin SPB sama Pekan Mahasiswa.. mungkin juga dulu gak ada yang tau sebetapa puyengnya ngurusin Sosma yang berasa sendirian hahahaha.. Alhamdulillah ada hikmahnya.. Mungkin semua yang dulu2 itu ternyata jadi tabungan perjuangan :""")

Pun ketika di Maret lalu kita menghadapi wabah Corona. Psikologi UNS ikut ambil bagian untuk membuat layanan psikologi gratis by phone apabila ada gejala psikologis yg timbul akibat wabah. Dan juga riset untuk mengetahui kelompok rentan dalam pandemi ini. Belum lagi adanya Komunitas Anak Bawang yang di inisiasi mbak mas saya yang keren2 setelah riset tentang permainan tradisional. 

Banyak kenangan disana. Teman-teman seangkatan Seventh Psyche yang unik-unik dan puinter-puinter. Yang mensupport maksimal ketika saya jadi Ketua Himapsi. Enam tahun saya sangat berwarna. Psikologi UNS laksana kawah candradimuka. Disana saya bukan hanya menyambung asa tapi menemukan tempat berlabuh dan berteduh, tempat kembali untuk saya bisa memberikan banyak kontribusi nantinya lewat kolaborasi kebaikan.. In syaa Allah..

Matur nuwun..matur nuwun kampusku, psikologiku, dosen-dosenku..

Bu Menik dengan wejangan 'jangan pelit dengan ide' mau menampung kegelisahan anak bau kencur untuk ikut PKM meski yang mikir banyak bundo Shofia.

Pak Bagus, pembimbing akademik yang realistis. Gak pernah seumur-umur kuliah ambil 24 SKS, jadi katok yang berpetualang kesana kemari ketemu tokoh cari ilmu dan sebisa mungkin gratis kemana-mana hahaha.

Pak Adit yang waktu itu menolak agar tidak jadi Asisten Psikologi Eksperimen agar bisa fokus ngurus Himapsi.

Pak Hardjono, dosen pembimbing yang banyak mengajarkan soal budi pekerti dan sopan santun

Bu Rin, yang selalu penuh penghayatan kalau menjelaskan psikologi Perkembangan sampai diskusi tentang project-project besar beliau

Pak Hakim, dosen muda energic yang ide mengajarnya kreatif menyenangkan dan kasih kesempatan saya ikut penelitian tentang Living Wage Buruh Garmen di Indonesia

Pak Arif, dosen pembimbing yang sabar dan kasih kesempatan saya belajar banyak tentang keikhlasan, ketulusan, kegigihan menjadi guru PAUD ABA Nurul Hidayah. sebuah pengalaman hidup yang akan selalu saya syukuri.

Pak Nugraha, beliau yang saat Bapak meninggal sangat berempati dengan kehidupan saya sampai ketika Pak Nug nengok saja saya udah nangis inget Bapak. Matur nuwun kesempatan saya bisa bikin soal-soal dan jadi korektor atau asisten asesor. Ilmunya terpakai sampai saat ini..

Pak Munawir, dosen penguji yang mengajarkan banyak pengalaman dan ilmu tentang penyandang disabilitas dan kata-kata beliau di akhir sesi ujian selalu saya ingat hingga hari ini "kalau saya jadi dosen pembimbing kamu, skripsimu saya ikut sertakan konferensi internasional karena temanya menarik" tentunya saya aaminkan agar saya bisa bersyukur lebih banyak melalui tulisan.

Moment terakhir sebelum meninggalkan kampus dengan Pak Nug-Pak Munawir-Pak Arif-Pak Hardjono (di kiri dari yang liat foto itu adalah dosen  penguji, sebelah kanan dosen pembimbing)

Sekali lagi, Matur nuwun..matur nuwun kampusku, psikologiku, dosen-dosenku..

Komentar

  1. Hangat banget, sampai membuatku menangis. Senang melihat keluarga kecilmu yg bahagia meski cuma lewat cerita. Semoga semakin sehat dan bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Nug..ma syaa Allah kangen pak belajar sama njenengan juga pak Adit.. matur nuwun ya pak bimbingan dan doa2 baiknya terutama ilmunya.. semoga berbalas kebaikan terbaik dan senantiasa sehat bahagia pak sekeluarga..matur nuwun nggih pak Nug

      Hapus
  2. nduk....terbanglah yang tinggi ya..kepakkan sayapmu..jaga marwah psikologi UNS ya..salam hangat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ma syaa Allah pak Adit matur nuwun nasihat2nya pak..ilmunya semua kesempatan yang pak Adit berikan semoga Allah berikan sehat dan kemudahan selalu pak selama menjalankan amanah.. matur nuwun sanget nggih pak Adit..kangen kampus semoga setelah pandemi bisa silaturahmi ke psikologi uns..aamiin

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...