Langsung ke konten utama

Tentang Keberserahan Diri

Berita kematian yang berseliweran di media sosial menjadikan diri terpacu juga terpicu dengan seberapa banyak bekal yang sudah dimiliki untuk pulang kampung ke negeri akhirat. Salah satu hikmah dari PPKM se Jawa Bali, bisa ketemu dengan komunitas emak-emak online untuk tuntas terjemah Al Qur’an selama tiga bulan dengan hitungan per hari menyetorkan 3 lembar. Metode ini hal baru bagi saya dan sangat membantu mengingat aktivitas kantor yang berpindah ke rumah. Kerja, kerja, kerja kadang membuat lupa bahwa ketahanan spiritual adalah hal yang juga penting dalam menghadapi pandemi. 

Menariknya, saat saya coba membaca dan menyelami arti dari ayat-ayat terjemahan Al Qur’an. Saya menemukan banyak kata “berserah dirilah"

Kesimpulan kami, semua episode kehidupan kami, sebagian besarnya karena keberserahan diri kami kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kami pikir-pikir, kalau kami malah ngebet banget terhadap sesuatu, perasaan ingin memiliki yang menggebu-gebu, perasaan ingin menang, dan perasaan yang sejenis dengan hal itu maka kami justru tidak pernah mendapatkan hal yang kami inginkan itu. Yah termasuk jalan menuju pernikahan kami, berserah diri modalnya. Dengan berserah diri, kami lebih tenang menjalani prosesnya dan tentunya menemukan banyak kemudahan. 

Kalau flashback ke belakang, sebenarnya saya juga bukan golongan siswa yang pinter-pinter amat apalagi waktu masuk 28, jadi paham istilah kalau di atas langit, masih ada langit wkwkw. Kok ya bisa nyantol diperingkat akhir-akhir wkwkw..Tetapi semua episode menuntaskan pendidikan dari SD hingga kuliah full dengan kepasrahan.. 

Jaman dulu, mau masuk SMP DKI dari SD Negeri di Depok, kami harus nyewa angkot dan tes beramai-ramai di SMP 103. Berbekal pasrah, bisa lolos SMP Negeri di DKI. Masuk SMA 28 juga modalnya pasrah, karena jaman segitu, deg-deg an sama uang pangkal sekolah yang mahaaaal sekali bagi saya. Dengan pasrah juga saya bisa menjalani petualangan akademis sambil sesekali naik gunung dan berkelana di alam raya atas pertolongan beasiswa para orang baik hingga PMDK ke UNS. Di kampus juga sama, saat menggebu banget daftar beasiswa sana sini gak keterima satupun, nyambi jualan, nyambi kerja sambilan udah pasrah di batin “ini bakal bisa nyelesain kuliah atau enggak” hingga secara tak di duga-duga justru langsung dapat dua beasiswa sekaligus di tahun ketiga. Pun ketika tes CPNS, yang mana di satu hari sebelum pelaksanaan SKB, terjadilah kontraksi kelahiran anak pertama yang lahir dini hari sebelum tes. Hanya dengan pertolongan Sang Maha Penolonglah saya bisa punya kekuatan untuk pagi harinya meluncur ke Jogja untuk tes, 7 jam setelah persalinan. 

Rasa-rasanya, pandemi ini memberikan banyak hikmah juga bagi saya untuk melihat kembali ke belakang dan bersyukur atas segala pertolongan yang sudah Allah berikan. Pandemi ini memberikan banyak waktu bagi saya untuk melihat lebih luas sisi lain dunia, karakter orang-orang, juga semakin mengenal diri saya sendiri, oh ternyata saya masih suka marah-marah..masih belum sabar..dsb..dsb

…dan mungkin tulisan ini bisa menjadi pengingat diri dikemudian hari, jika mulai memiliki perasaan yang begitu menggebu-gebu saat menginginkan sesuatu. 

Sebab mungkin benar adanya, jika kita belajar melepaskan sesuatu yang paling kita inginkan ataupun kita cintai, justru di saat yang sama semesta seperti bersatu atas izinNya untuk mengantarkan hal itu pada diri kita. 

maka..berserahlah..kita..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adik Jempolan

Suatu pagi saat aku pulang. Dengan segera kamu menghambur ke pelukan. Menggeledah isi ransel. Tiba-tiba menjadi perempuan paling cerewet sepagian. Menyerangku dengan banyak pertanyaan. "Pulang naik apa?" "Sampai jam berapa?" "Sama siapa?" Tanpa diminta, tanpa ditanya. Kamu berceloteh sesiangan. Tentang rumah, sekolah, ide-ide, mimpi-mimpi, cinta. Meluapkan yang selama ini mengendap pada lisan. Wajah kesal, bahagia, penasaranmu, menyita seluruh perhatianku. Kamu menang, menangin perhatianku buat kamu. Kamu bilang sekarang rajin menulis. Aku tidak percaya. Kemudian, saat kamu belum pulang. Aku hampiri meja kesayanganmu. Ada buku biru. Aku buka-buka. Aku baca lembaran-lembarannya. Kamu tidak bohong, tidak pernah bohong. Kamu sudah jadi penulis. Penulis mimpi-mimpi. *merekam memori* kamu tulis soal target-target hafalan kamu tulis tentang pencapaian akademik kamu tulis tentang pencapaian non akademik dan banyak hal lainnya Aku tergugu. Seusiamu...

Sebuah Refleksi Bertambah Usianya Mbarep

Sudah banyak yg bilang jika akan selalu ada “yang pertama kalinya” dalam kehidupan kita. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali tes, pertama kali menjadi istri, dan banyak lagi.  Menjalani hal baru pasti banyak tantangan, kebutuhan adaptasi juga resiliensi dari stres/tekanan yang dipicu dari (1) mindset yang menjurus ke overthinking (2) ketakutan (3) kekecewaan (4) juga komen netizen yang julid hehehe Tapi bagimana ya pertama kalinya menjadi bayi? Ini sebuah perjalanan spiritual bagi dua insan yang kemudian mendapat predikat orang tua. Yang dari berbagai riset menunjukkan setiap stimulus, respon, pengasuhannya akan memberikan dampak bagi jiwa si anak dan menghadapi “yang pertama kali” bagi kehidupannya. Artinya, disetiap momen bertambah usianya ada hal baru pula yang perlu orang tua siapkan. Bukan hanya finansial, tapi ilmu mendidik, pendidikan, juga menigisi penuh tanki cinta dalam jiwanya.. Anak-anak mbarep yang tumbuh dengan tanki cinta yang penuh akan lebih mudah mencintai ad...

Ketakberdayaan

Ada pertanyaan yang sering diajukan sama peserta kalau lagi jadi pemateri “Mbak, gimana caranya supaya kita bisa mengenal diri kita sendiri?” Dulu banget pernah jawab gini, “hmm…dengan memberikan waktu sama diri kita untuk bertafakur atau merenung atau muhasabah.” Sebab, dengan me time atau waktu-waktu berkualitas yang kita habiskan untuk menyelami siapa diri kita, apa hakikat kehidupan, apa tujuan hidup manusia, hal itu menjadi waktu berharga agar sampainya manusia pada hakikat keagungan Allah. Apalagi kalau melakukannya di alam bebas. Saat sepoi angin berhembus, padang ilalang menghampar atau diantara lautan awan putih. Semuanya menjadi sajian indah yang mengingatkan akan hakikat kebesaran Allah, bahwa manusia tidak akan bisa mencipta sedemikian sempurna sebuah suguhan yang mendamaikan jiwa. Landasan jawaban itu berasal dari sebuah perkataan Ali bin Abi Thalib radiyallahuanhu yang terus terngiang beliah bilang barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengena...