Dik, selalu ada yang berkesan dalam pertemuan-pertemuan kita
di atas meja makan, dan itu menjadi bagian yang paling aku suka. Suka jika
berlama-lama mendengar cerita kalian. Tangis, tawa, canda, ide, semangat,
pokoknya semua-mua yang kalian punya, jadi candu untuk bertemu.
Seperti ungkapmu dalam salah satu percakapan kita
Mbak, bersyukur
itu tidak hanya saat kita diberikan kemudahan oleh Allah atau ketika apa yang
kita inginkan dikabulkan Allah. Tapi juga saat Allah menangguhkan harapan kita.
Bersyukur saat kita mendapatkan apa yang kita impikan, tentu
saja mudah. Setidaknya lebih mudah daripada bersyukur ketika kita sudah
berusaha mati-matian namun Allah merencanakan sesuatu yang berbeda dari yang
sudah kita usahakan. Tapi kalian, tetap melangitkan rasa syukur itu pada Allah.
Walaupun Allah belum izinkan kaki kalian menjejak di Negeri Sakura.
Kita jadi
belajar mbak, tentang cara membuat film yang baik, juga cara berinteraksi yang
baik dengan anak-anak saat pembuatan film.
Kebersyukuran itu tercermin dari hikmah yang kalian
jabarkan. Satu demi satu. Menjadikan kalian lebih dewasa. Sungguh aku yakin,
Allah semakin bangga pada kalian. Apalagi Ibu Bapak, Ummi Abi, Mama Papa?
Seringkali kita merasa bahwa rasa sayang Allah kepada
hambaNya hanya ditunjukkanNya melalui banyak kemudahan yang kita jumpai. Tapi
kalian memberikan cara pandang yang berbeda. Mengalirkan semangat hidup bahwa
Allah selalu sayang pada kita. Entah kemudahan atau kesulitan yang diberikanNya,
keduanya sama-sama mendidik kita untuk melangitkan syukur yang sama.
Untukmu Adinda...
Semoga semakin banyak hikmah yang terhimpun dalam jumpa
kita.
Tahukah? Menjadi bernilai di hadapan manusia itu baik. Tapi menjadi
bernilai di mata Allah itu jauh lebih baik.
Uhibukifillah :)
Makasih Mbak Titis, makasih sudah menjadi teman, kakak, guru yang baik buat kami ya, ini rizki luar biasa yang Allah kasih ke kami, iya, bisa dipertemukan dengan sahabat sahabat yang baik :') barakallah mbak :))
BalasHapus